AS dan Iran redakan ketegangan, harga minyak anjlok 3%

Rabu, 24 Juni 2026

image

JAKARTA - Harga minyak dunia ditutup merosot lebih dari 3% pada perdagangan Senin (23/6) setelah kemajuan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Seperti dikutip ChannelNewsAsia, minyak mentah Brent ditutup turun US$2,67 atau 3,31% ke level US$77,90 per barel. Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman terdekat berakhir di US$74,82 per barel, turun US$1,78 atau 2,32%.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak hingga menyentuh US$82,30 per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan perang dengan Iran dan Teheran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak dunia.

Namun sentimen pasar berbalik setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan kemajuan telah tercapai dalam perundingan dengan Iran dan lalu lintas energi melalui Selat Hormuz tetap terbuka.

Pejabat senior AS dan Iran menyelesaikan putaran pertama pembicaraan di Swiss pada Senin. Negosiasi tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang disepakati pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh setidaknya selama 60 hari ke depan.

Di saat yang sama, Departemen Keuangan AS mengeluarkan lisensi umum yang mengizinkan penjualan minyak mentah, produk petrokimia, dan produk energi asal Iran hingga 21 Agustus 2026.

Kebijakan tersebut membuka peluang tambahan pasokan minyak ke pasar global.

Meski demikian, Iran menegaskan tidak membahas program nuklirnya dalam perundingan tersebut dan tidak menerima komitmen baru dari Washington.

Dari sisi pasokan, analis UBS Giovanni Staunovo menilai kembalinya ekspor minyak Iran yang sebelumnya terganggu akibat blokade angkatan laut AS akan menambah suplai ke pasar.

"Pelepasan barel-barel tersebut merupakan pasokan tambahan untuk pasar," kata Staunovo.

Data pelacakan kapal menunjukkan dua tanker minyak yang membawa hampir 2 juta barel minyak berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin. Aktivitas tersebut mengindikasikan arus pengiriman energi mulai pulih setelah sempat melambat akibat kekhawatiran keamanan di kawasan.

Selain Iran, sejumlah produsen Timur Tengah juga mulai meningkatkan pasokan. Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak dilaporkan menawarkan volume minyak tambahan kepada pelanggan mereka dalam sepekan terakhir.

Irak bahkan berencana menaikkan produksi minyak secara bertahap hingga mencapai 4,2 juta hingga 4,3 juta barel per hari.

Meski demikian, pemulihan pasokan global diperkirakan tidak akan berlangsung mudah. ANZ memperkirakan sekitar 2 juta hingga 3 juta barel per hari dapat kembali ke pasar dalam empat pekan pertama, namun pemulihan lebih lanjut masih bergantung pada stabilitas geopolitik serta kemampuan sektor hulu dan kilang untuk kembali beroperasi normal.

"Kenaikan awal akan didorong oleh logistik (pengiriman) daripada produksi," tambah ANZ. "Kenaikan selanjutnya akan bergantung pada pemulihan hulu dan kilang. Pemulihan penuh kemungkinan tidak akan terjadi tahun ini."(DH)