Bitcoin turun ke US$62.000 saat saham chip lanjut terkoreksi

Rabu, 24 Juni 2026

image

NEW YORK - Harga bitcoin turun mendekati US$62.000 pada Rabu (24/6), seiring berlanjutnya aksi jual saham teknologi dan semikonduktor untuk hari kedua yang kembali menekan aset berisiko secara global.

Dikutip dari CoinDesk, bitcoin diperdagangkan di kisaran US$62.546, turun 2,1% dalam 24 jam terakhir dan melemah 4,9% sepanjang minggu ini. Pergerakan itu membawa bitcoin kembali mendekati batas bawah rentang harga yang bertahan sepanjang bulan ini.

Tekanan jual terjadi hampir di seluruh pasar kripto. Ether turun 3,7% ke US$1.661 dan mencatat pelemahan mingguan 7,2%. XRP melemah 2,2% ke US$1,10 dengan penurunan mingguan 9,3%, sementara solana turun 3,3% ke US$69. Dogecoin menjadi salah satu token yang paling tertekan setelah merosot 9,8% dalam tujuh hari terakhir.

Token Hyperliquid, HYPE, mencatat penurunan terdalam dengan koreksi 8,8% dalam sehari dan 18,6% sepanjang sepekan ke sekitar US$61. Di sisi lain, Tron menjadi salah satu token yang relatif bertahan dengan kenaikan 3,7% dalam sepekan terakhir.

Tekanan terhadap aset berisiko berasal dari sumber yang sama seperti sehari sebelumnya, yakni aksi jual lanjutan pada saham semikonduktor. Philadelphia Semiconductor Index turun 7,9% pada Selasa (23/6), dengan seluruh 30 saham anggotanya melemah. Micron, Marvell, dan On Semiconductor, yang masing-masing telah melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang 2026, memimpin penurunan tersebut.

Aksi jual itu turut menyeret indeks S&P 500 turun 1,4% dan Nasdaq 100 merosot 3,3%. Upaya rebound saham chip di Asia pada Rabu (25/6) juga gagal bertahan, dengan saham Taiwan Semiconductor tercatat turun lebih dari 3%.

Dari sisi makro, harga minyak yang terus melemah turut membentuk sentimen pasar. Brent turun sekitar 1% mendekati US$76 per barel seiring lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai terlihat lebih normal setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Pada saat yang sama, indeks dolar AS naik ke level tertinggi tujuh bulan karena investor beralih ke aset yang lebih aman.

Tekanan di pasar kripto juga terlihat dari arus dana investor. Mike McCluskey, salah satu pendiri tx, menilai bitcoin yang masih bertahan di kisaran US$60.000-an menunjukkan pelemahannya sejauh ini masih relatif terukur, meski The Fed kembali memberi sinyal kebijakan yang lebih hawkish. Menurut dia, aset digital biasanya lebih rentan tertekan ketika ekspektasi suku bunga AS menguat.

Namun, ia menambahkan ETF spot bitcoin di AS mencatat arus keluar bersih 30 hari terbesar sepanjang sejarah, yakni lebih dari US$6 miliar. Menurut McCluskey, kondisi itu menunjukkan aksi pengurangan risiko secara berkelanjutan oleh investor institusional yang sebelumnya menjadi pendorong utama reli bitcoin dalam siklus kali ini.

Ia menilai reli pemulihan kemungkinan akan tetap terbatas selama arus dana institusional belum menunjukkan pembalikan yang jelas. McCluskey juga menyoroti jatuh tempo opsi di Deribit pada Jumat (27/6), dengan nilai nosional sekitar US$10,6 miliar yang akan berakhir.

Dalam perdagangan opsi, sekitar 80% posisi terbuka saat ini berada di luar harga pelaksanaan atau out of the money, yang berarti kontrak tersebut akan kedaluwarsa tanpa nilai jika harga bitcoin bertahan di level saat ini. Posisi itu banyak terkonsentrasi pada opsi jual di level US$60.000 dan opsi beli di level US$80.000.

Menurut CoinDesk, level-level tersebut lebih tepat dibaca sebagai cerminan seberapa agresif posisi pasar saat ini ketimbang sebagai magnet harga jangka pendek. Meski begitu, level US$60.000 tetap dipandang sebagai batas teknikal dan psikologis penting bagi bitcoin, apalagi area itu sudah beberapa kali diuji sepanjang bulan ini.

Dengan kondisi tersebut, bitcoin masih tertahan di kisaran yang sama seperti sepanjang pekan ini, terjepit di antara koreksi sektor AI dan meredanya risiko lonjakan harga minyak. Meski sejauh ini masih bertahan di atas ambang US$60.000 yang menjadi dasar pergerakan sepanjang Juni, pasar belum melihat katalis kuat untuk mengangkat harga selama permintaan dari investor institusional belum kembali. (ARF)