Jepang kaji optimalisasi cadangan devisa untuk intervensi yen
Kamis, 25 Juni 2026
TOKYO - Pemerintah Jepang berencana mengkaji cara mengelola cadangan devisa senilai US$1,3 triliun dengan lebih efektif, termasuk untuk memperkuat amunisi intervensi yen di tengah tekanan berkepanjangan terhadap mata uang tersebut.
Seperti diikutip dari CNA, rencana itu tertuang dalam draf strategi pertumbuhan yang menjadi salah satu agenda utama Perdana Menteri Sanae Takaichi.
Pemerintah menyebut akan menelaah manfaat dari perbaikan pengelolaan serta pemanfaatan aset sektor publik secara lebih efektif, termasuk rekening khusus dana valuta asing, dengan tetap mempertimbangkan tujuan utama dana tersebut.
Langkah itu mencerminkan keinginan pemerintah Jepang untuk meningkatkan imbal hasil dari cadangan devisa sekaligus membantu memperbaiki kondisi fiskal yang tertekan. Takaichi sendiri selama ini mendorong kebijakan belanja yang lebih agresif untuk menopang ekonomi terbesar keempat di dunia.
Tokyo kembali melakukan intervensi besar di pasar valuta asing pada akhir April 2026 setelah yen melemah menembus level 160 per dolar AS.
Langkah itu membuat cadangan devisa Jepang turun 5,6% pada Mei 2026, setelah pemerintah menggelontorkan sekitar US$73 miliar untuk membeli yen. Kondisi ini menegaskan bahwa ruang Jepang untuk mempertahankan intervensi skala besar secara berkelanjutan kian terbatas.
Meski demikian, draf strategi tersebut belum menjelaskan perubahan spesifik pada komposisi aset cadangan devisa Jepang, yang selama ini diyakini sebagian besar ditempatkan pada obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Sebagian besar surplus dari cadangan itu, termasuk pendapatan dari obligasi AS, selama ini dialihkan ke rekening umum sebagai salah satu sumber pembiayaan anggaran negara.
Wacana pengelolaan cadangan devisa ini juga berkaitan dengan perdebatan yang lebih luas di Jepang. Sejumlah anggota parlemen dari kubu pemerintah maupun oposisi mengusulkan agar cadangan devisa, kepemilikan ETF bank sentral, dan aset dana pensiun digabung ke dalam sovereign wealth fund demi mengejar imbal hasil yang lebih tinggi.
Namun, sejumlah pejabat pemerintah menilai perubahan drastis terhadap portofolio cadangan devisa tidak realistis karena dana itu pada dasarnya sebaiknya disimpan sebagai sumber likuiditas siap pakai untuk intervensi mata uang.
Seorang sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan akan sulit mengejar keuntungan dengan cara yang bertentangan dengan tujuan utama cadangan devisa.
Kepala Strategi Pasar Aozora Bank, Akira Moroga, juga memperingatkan bahwa upaya mengejar imbal hasil lebih tinggi berpotensi mengurangi aspek keamanan cadangan dan dapat dipandang negatif oleh pasar.
Menurut dia, cadangan devisa pada akhirnya berfungsi menopang kredibilitas negara, sehingga seharusnya ditempatkan terutama pada aset yang sangat likuid dan andal, bukan investasi yang lebih berisiko.
Ekonom senior Mizuho Research Institute, Saisuke Sakai, menambahkan bahwa pemanfaatan cadangan devisa secara lebih agresif pada praktiknya bisa berarti menjual obligasi pemerintah AS.
Menurut dia, langkah seperti itu perlu dipertimbangkan dengan hati-hati, terutama saat imbal hasil obligasi jangka panjang AS sedang naik dan mengingat hubungan strategis Jepang dengan Washington. Jepang saat ini merupakan pemegang asing terbesar dari obligasi pemerintah AS.