Thailand-Argentina berpeluang jadi pusat rantai pasok global baru

Kamis, 25 Juni 2026

image

BUENOS AIRES - Thailand, Filipina, dan Argentina termasuk dalam kelompok negara yang dinilai memiliki potensi besar namun masih belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global, menurut analisis terbaru mengenai tren perdagangan dunia.

Dalam laporan yang dirilis Verisk Maplecroft pada Kamis, negara-negara tersebut bersama sejumlah negara lain di Asia Tenggara dan Amerika Latin diperkirakan akan memperoleh manfaat dari upaya diversifikasi rantai pasok global. 

Seperti dikutip Bloomberg, perusahaan-perusahaan kini tidak hanya mempertimbangkan biaya dan efisiensi, tetapi juga ketahanan rantai pasok dalam menghadapi berbagai risiko.

Verisk Maplecroft memperingatkan bahwa sepertiga pelabuhan dan bandara tersibuk di dunia rentan terhadap gangguan akibat konflik, risiko lingkungan, dan ancaman keamanan domestik. 

Di saat ketahanan perdagangan memburuk di lebih dari 150 negara yang mewakili sekitar 90% perdagangan global, kondisi ini membuka peluang bagi negara-negara yang disebut sebagai "bintang baru" dalam rantai pasok.

Penutupan Selat Hormuz selama konflik AS-Israel dengan Iran sempat menciptakan tekanan jangka pendek bagi Thailand dan Filipina.

Namun, Verisk Maplecroft menilai kedua negara tetap menarik bagi investor yang memiliki perspektif jangka panjang.

Dalam penilaiannya, perusahaan tersebut mempertimbangkan tiga faktor utama, yakni keterbukaan pasar, kekuatan regulasi, dan perlindungan hak-hak tenaga kerja.

Filipina dinilai memiliki potensi besar dalam rantai pasok meskipun menghadapi gejolak politik dalam setahun terakhir. 

Negara itu dilanda skandal korupsi terkait proyek pengendalian banjir yang berdampak pada investasi asing dan mendorong pemerintah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Selain itu, perselisihan politik antara Presiden Ferdinand Marcos Jr. dan Wakil Presiden Sara Duterte turut menyita perhatian politik domestik. Meski demikian, pemerintah tetap berupaya menarik investasi dan mengurangi hambatan regulasi bagi dunia usaha.

Menurut analis senior Verisk Maplecroft, Laura Schwartz, Filipina memiliki keunggulan berupa tenaga kerja muda yang menguasai bahasa Inggris, sehingga berpotensi menjadi pusat layanan industri dan outsourcing.

Sementara itu, risiko investasi di Thailand dinilai menurun dibandingkan negara-negara regional lainnya dalam lima tahun terakhir. 

Sektor elektronik Thailand mendapat dukungan dari meningkatnya investasi kecerdasan buatan (AI), sehingga negara tersebut dianggap memiliki posisi yang baik untuk menampung rantai pasok dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Meski menghadapi tantangan berupa populasi tenaga kerja yang menua dan biaya tenaga kerja yang lebih tinggi dibandingkan negara tetangga, Thailand tetap dipandang memiliki fondasi yang kuat untuk menarik diversifikasi rantai pasok global.

Di Amerika Latin, Argentina dinilai berpotensi memperoleh manfaat dari perjanjian perdagangan Uni Eropa-Mercosur serta kesepakatan perdagangan dan investasi timbal balik dengan AS. 

Kedua kesepakatan tersebut dapat mendorong ekspor mineral kritis, energi, dan produk industri.

Laporan itu juga menempatkan Chile dan Uruguay sebagai negara yang menarik di kawasan tersebut, dengan Uruguay memiliki profil risiko operasional terbaik setelah disesuaikan dengan berbagai faktor risiko.

Verisk Maplecroft menilai Amerika Latin masih tertinggal dari Asia Tenggara sebagai basis manufaktur berskala besar. 

Namun, upaya negara-negara Barat untuk mengurangi ketergantungan terhadap China membuka peluang bagi munculnya pusat-pusat rantai pasok baru di kawasan tersebut.

Laporan itu juga menyebut Vietnam, Malaysia, Meksiko, dan Brasil telah lebih dahulu menikmati manfaat dari berkurangnya perdagangan bilateral antara AS dan China. 

Meski memiliki sejumlah keunggulan sebagai pusat rantai pasok, risiko terhadap rantai pasok perusahaan multinasional di keempat negara tersebut juga terus meningkat. (DK)