Arus ekspor mulai pulih, 35 juta barel minyak keluar dari Hormuz

Kamis, 25 Juni 2026

image

JAKARTA - Arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz mulai pulih setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan yang membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Sedikitnya 20 kapal tanker yang mengangkut sekitar 35 juta barel minyak berhasil keluar dari Teluk Persia setelah sebelumnya tertahan selama lebih dari tiga bulan akibat konflik bersenjata.

Seperti dikutip Cnbc, data perusahaan pelacak perdagangan global Kpler menunjukkan kapal-kapal tersebut bukan berasal dari Iran dan sempat terjebak di kawasan Teluk Persia sejak Teheran secara efektif menutup akses Hormuz pada tahap awal perang. Sebagian besar muatan minyak tersebut ditujukan ke pasar Asia dan diperkirakan tiba di tujuan akhir pada awal Agustus.

Pemulihan aktivitas pelayaran juga mulai mendorong peningkatan volume ekspor minyak. Kpler mencatat pengiriman minyak yang telah terkonfirmasi melalui Selat Hormuz mencapai sekitar 4,8 juta barel per hari sejak kesepakatan AS-Iran diberlakukan.

Volume tersebut menjadi yang tertinggi sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Meski demikian, angka itu masih jauh di bawah kondisi sebelum perang, ketika sekitar 15 juta barel minyak per hari melintasi selat tersebut.

Selain minyak dari negara lain, tanker Iran yang mengangkut sekitar 21 juta barel minyak juga telah keluar dari Selat Hormuz sepanjang Juni. Perkembangan ini terjadi setelah Angkatan Laut AS mencabut blokade terhadap Iran pada 18 Juni, disusul keputusan Departemen Keuangan AS yang memberikan pengecualian sanksi terhadap penjualan minyak Iran hingga Agustus mendatang.

Kpler juga mencatat kapal-kapal tanker yang memuat minyak sejak akhir April telah mengirimkan sekitar 51 juta barel melalui Hormuz sepanjang bulan ini. Sebagian kapal tersebut diketahui beroperasi dengan sistem pelacakan atau transponder yang dimatikan, sehingga volume sebenarnya diperkirakan lebih besar dari data yang tersedia.

Meningkatnya arus ekspor minyak sejalan dengan membaiknya situasi keamanan di kawasan. Joint Maritime Information Center (JMIC) menurunkan tingkat ancaman bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz dari sebelumnya "critical" menjadi "moderate".

“Serangan mungkin saja terjadi namun kemungkinannya kecil, dan risiko secara keseluruhan telah menurun setelah diberlakukannya Nota Kesepahaman AS-Iran,” kata JMIC dalam pembaruan terbarunya.

Lembaga tersebut sebelumnya menetapkan status keamanan tertinggi pada awal Juni ketika konflik masih berlangsung dan risiko serangan terhadap kapal komersial meningkat tajam.

Di sisi lain, Organisasi Maritim Internasional (IMO) yang berada di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai menyiapkan rencana evakuasi bagi lebih dari 11.000 pelaut yang masih berada di kawasan Teluk Persia. Program tersebut mendapat dukungan dari Iran, Oman, Amerika Serikat, serta negara-negara Teluk lainnya.

“Kami telah mendapatkan jaminan keselamatan yang diperlukan dan memverifikasi secara menyeluruh kondisi untuk navigasi yang aman guna mendukung operasi-operasi ini.” ujar Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez.(DH)