Perang Iran picu krisis plastik, harga pangan Asia terancam naik
Kamis, 25 Juni 2026
JAKARTA - Konsumen di Asia berpotensi menghadapi lonjakan harga pangan dalam beberapa bulan ke depan setelah perang Iran memicu gangguan pasokan plastik yang digunakan untuk pengemasan makanan.
Tekanan tersebut muncul ketika harga pangan global sudah berada di dekat level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan biaya kemasan berisiko memperberat beban rumah tangga yang sebelumnya telah terdampak oleh tingginya harga energi dan bahan bakar.
Gangguan pasokan bermula dari hampir lumpuhnya aktivitas di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Penutupan jalur tersebut menghambat pengiriman nafta, bahan baku utama industri plastik yang sebagian besar dipasok ke negara-negara Asia.
Meski upaya perdamaian mulai menunjukkan perkembangan sejak konflik pecah pada akhir Februari, pelaku industri memperingatkan bahwa pemulihan pasokan menuju kondisi normal masih membutuhkan waktu.
Seperti dikutip Bloomberg, salah satu dampaknya dirasakan oleh produsen udang terbesar Vietnam, Minh Phu Seafood Corp., yang mencatat lonjakan biaya kemasan plastik sekitar 50% sejak perang dimulai. Perusahaan untuk sementara masih menyerap kenaikan biaya tersebut, namun berencana menyesuaikan harga produknya di masa mendatang.
Tekanan serupa terjadi di Malaysia. Produsen susu Farm Fresh Bhd. menaikkan harga beberapa produknya pada Juni 2026, menjadi kenaikan pertama sejak 2023. Gangguan pasokan kemasan juga memaksa perusahaan beralih menggunakan karton kertas berukuran lebih kecil sambil mencari sumber pasokan alternatif.
"Ketiga pemasok botol plastik kami bergantung pada produsen resin HDPE yang memperoleh pasokan nafta dari Timur Tengah," ujar Chief Financial Officer Farm Fresh Bhd., Mohd Khairul Mat Hassan.
Menurutnya, preferensi konsumen turut memperumit situasi. "Banyak orang masih menyukai botol plastik karena lebih mudah digenggam, lebih kokoh, dan bagi banyak konsumen memberikan pengalaman rasa yang lebih baik," katanya.
Kenaikan biaya juga menyebar ke sektor manufaktur kemasan. Jepang dan Korea Selatan, dua importir utama nafta dunia, terpaksa mencari pasokan dari negara lain dengan harga yang lebih tinggi. Dampaknya, sejumlah produsen kemasan plastik di kawasan mulai menaikkan harga jual produk hingga 20%.
Di Jepang, pemasok karton telur terbesar, Kurihara Seisakusho Co., turut menaikkan harga produknya bulan ini setelah sebelumnya mempertahankan pasokan dengan biaya pengadaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Sementara itu, industri beras Thailand menghadapi tekanan yang tak kalah besar. Biaya kemasan dilaporkan melonjak hingga 40%, memaksa pelaku usaha mempertimbangkan penyesuaian harga jual.
"Selama ini, pihak pengemas beras berupaya menyerap kenaikan biaya tersebut, namun tidak jelas sampai kapan hal itu bisa terus dilakukan," ujar Presiden Thai Rice Packers Association, Yongyut Phurkmahadamrong.
Dampak perang bahkan menjalar hingga sektor pertanian Australia. Daintree Fresh, eksportir melon ke Jepang, menghadapi lonjakan biaya plastik penutup lahan yang digunakan untuk mengendalikan gulma. Kenaikan tersebut terjadi bersamaan dengan membengkaknya biaya bahan bakar dan pupuk.
"Kami sedang terpuruk," ujar Direktur Daintree Fresh, Shaun Jackson, yang memperkirakan total biaya operasional perusahaan akan melonjak hingga 50% tahun ini.
Ia menambahkan bahwa tingginya biaya produksi memaksanya menolak permintaan dari pasar Jepang. "Yang sangat disayangkan adalah adanya permintaan yang kuat dari Jepang. Saya harus pergi ke sana dan menyampaikan bahwa saya tidak bisa memenuhi permintaan mereka tahun ini karena biaya kami terlalu tinggi."(DH)