Risiko geopolitik picu kenaikan saham terkait LNG di Jepang?
Kamis, 25 Juni 2026
TOKYO - Meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah memicu optimisme terhadap saham-saham Jepang yang terkait dengan industri gas alam cair (LNG).
Investor menilai pembangunan kembali infrastruktur energi yang rusak akibat perang di kawasan Teluk Persia serta pengembangan fasilitas baru di berbagai negara akan menciptakan peluang bisnis bagi perusahaan Jepang.
Seperti dikutip Bloomberg, kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi juga mendorong ekspektasi munculnya rantai pasok LNG alternatif di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Asia Tenggara.
Kondisi ini dinilai dapat menguntungkan perusahaan Jepang yang bergerak di bidang infrastruktur, peralatan, dan komponen LNG.
Menurut Kazuhiro Toyoda dari Schroder Investment Management Jepang, gejolak di Timur Tengah berpotensi memicu perubahan struktural dalam pola pengadaan energi global.
Perusahaan yang terlibat dalam pengembangan terminal LNG dan fasilitas pendukung lainnya dipandang memiliki prospek investasi yang menarik.
Kekhawatiran terhadap pasokan LNG meningkat setelah serangan pada Maret menghentikan produksi di Qatar, yang menyumbang sekitar seperlima ekspor LNG dunia.
Meski produksi diperkirakan pulih secara bertahap setelah Selat Hormuz kembali dibuka, pemulihan penuh diperkirakan memerlukan waktu beberapa tahun.
Sejak tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran, sejumlah saham Jepang yang terkait dengan LNG menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan indeks pasar secara keseluruhan.
Perusahaan seperti Nikkiso, Kitz, dan Yokogawa Electric menjadi sorotan karena keterlibatan mereka dalam rantai pasok LNG global.
Analis Okasan Securities, Fumio Matsumoto, menilai Jepang memiliki keunggulan kuat dalam pembangunan fasilitas LNG, peralatan, dan komponennya.
Menurutnya, kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas pasokan LNG masih akan berlanjut dalam jangka panjang sehingga dapat terus menopang kinerja saham-saham terkait.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar menilai sentimen positif tersebut masih didorong oleh ekspektasi.
Hingga kini belum terlihat peningkatan nyata proyek LNG baru di luar Timur Tengah, sementara prospek pertumbuhan permintaan bahan bakar fosil dalam jangka panjang juga masih dipertanyakan.
Di sisi lain, harga LNG tetap mencerminkan kekhawatiran terhadap pasokan global.
Kontrak LNG di Asia Timur Laut masih berada lebih dari 40% di atas level sebelum perang Iran, menunjukkan pasar masih mengantisipasi risiko gangguan pasokan dan kenaikan biaya distribusi di masa mendatang. (DK)