Goldman Sachs: Lonjakan penjualan EV tekan harga minyak hingga 2027

Kamis, 25 Juni 2026

image

JAKARTA - Harga minyak yang sempat melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun akibat konflik Iran diperkirakan hanya menjadi fenomena sementara. 

Seperti dikutip dari BusinessInsider, Goldman Sachs menilai, seiring meredanya perang dan berkurangnya guncangan di pasar energi, tren harga minyak hingga akhir 2027 cenderung menurun.

Analis Goldman Sachs yang dipimpin Co-Head of Global Commodities Research Daan Struyven menyebut lonjakan harga minyak justru mendorong lebih banyak konsumen beralih ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV), yang pada akhirnya akan mengurangi permintaan minyak global.

Goldman memperkirakan percepatan adopsi EV dapat memangkas permintaan minyak dunia sebesar 0,13 juta hingga 0,32 juta barel per hari pada Desember 2027, atau sekitar 0,1%–0,3% dari total permintaan global, tergantung seberapa lama tren peningkatan penjualan EV bertahan.

Meski penjualan EV sempat melemah dalam beberapa waktu terakhir, Goldman mencatat permintaan kendaraan listrik kembali meningkat setelah harga bahan bakar melonjak akibat perang Iran. 

Sejak Februari 2026, pangsa penjualan EV global naik 3,4 poin persentase dan pada Mei 2026 mencapai lebih dari 26% dari total penjualan kendaraan, level tertinggi sepanjang masa kecuali pada September 2025.

Dalam perhitungannya, Goldman menggunakan asumsi bahwa setiap tambahan satu juta pengemudi yang beralih ke EV di Amerika Serikat akan mengurangi konsumsi minyak sekitar 30.000 barel per hari. 

Di luar AS, dampaknya diperkirakan sekitar 20.000 barel per hari.

Struyven menambahkan, percepatan adopsi EV memperkuat proyeksi Goldman sebelumnya bahwa harga minyak akan melemah setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Dalam skenario yang lebih pesimistis, Goldman memperkirakan permintaan minyak global dapat kehilangan 1,5 juta barel per hari akibat dampak berkepanjangan dari gangguan di Selat Hormuz, dibandingkan 0,5 juta barel per hari dalam skenario dasar. 

Kondisi tersebut berpotensi mendorong harga minyak Brent turun ke kisaran pertengahan US$50 per barel pada akhir 2027, ditambah tekanan dari pasokan yang lebih tinggi.

Goldman juga menilai dampak penurunan permintaan minyak berpotensi lebih besar karena proyeksi tersebut belum memperhitungkan kendaraan listrik non-penumpang, yang pertumbuhannya semakin pesat di pasar utama seperti China dan India.

Menurut Struyven, peningkatan penjualan EV penumpang global hanyalah salah satu jalur yang dapat menekan permintaan minyak dalam jangka panjang, meskipun harga produk energi nantinya kembali stabil. (DK)