Damai dengan Iran, Marco Rubio janji AS tetap lindungi negara Teluk
Kamis, 25 Juni 2026
WASHINGTON - Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menjanjikan negara-negara Teluk bahwa Washington akan melindungi kepentingan mereka dalam perundingan dengan Iran guna mencapai penyelesaian permanen konflik Timur Tengah.
Seperti dikutip dari CNA, dalam kunjungannya ke Kuwait, Rubio menegaskan AS akan menyelaraskan setiap langkah negosiasi dengan para mitranya di kawasan Teluk.
Menurutnya, negara-negara Teluk akan dilibatkan dalam pembahasan terkait setiap keputusan yang diambil dalam proses negosiasi dengan Teheran.
Kunjungan Rubio merupakan bagian dari upaya meyakinkan negara-negara Teluk yang terdampak konflik Iran-AS, termasuk serangan rudal dan drone Iran serta gangguan pengiriman minyak dan gas akibat blokade Iran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi dengan Iran berjalan baik.
Di saat yang sama, Trump mengajukan permintaan dana tambahan hampir US$88 miliar kepada Kongres, sebagian besar untuk Pentagon guna menutupi biaya perang dengan Iran.
Kesepakatan awal antara AS dan Iran yang mencakup proses negosiasi selama 60 hari dinilai belum menjawab kekhawatiran lama negara-negara Teluk terkait program rudal Iran dan kelompok-kelompok proksi yang didukung Teheran.
Namun Rubio menegaskan Washington tidak akan mengambil langkah yang dapat mengganggu keamanan sekutunya.
Di sisi lain, Iran menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai kemenangan diplomatik. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut perjanjian yang dimediasi Pakistan itu sebagai hasil ketahanan dan kekuatan bangsa Iran, bahkan menyebutnya sebagai "deklarasi kekalahan Amerika".
Rubio juga menegaskan AS tetap berkomitmen menjaga kebebasan pelayaran tanpa pungutan biaya di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dan gas dunia.
Trump menyebut rencana penerapan biaya bagi kapal yang melintas sebagai langkah yang tidak dapat diterima.
Meski demikian, Iran berulang kali menegaskan akan tetap mengendalikan Selat Hormuz bersama Oman dan mengenakan biaya layanan maritim bagi kapal yang melintas.
Negara-negara Teluk, Irak, dan Iran dijadwalkan membahas isu tersebut dalam perundingan yang difasilitasi Oman.
Selain isu Iran, situasi di Lebanon juga menjadi bagian penting dalam upaya mencapai kesepakatan jangka panjang.
Ghalibaf menegaskan gencatan senjata di Lebanon sama pentingnya dengan gencatan senjata di Iran dalam proses menuju penyelesaian konflik yang lebih luas.
Bila untuk berita pasar dan energi, angle utama yang paling kuat adalah komitmen AS menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz dan menjamin kepentingan negara-negara Teluk dalam negosiasi dengan Iran. (DK)