CEO TotalEnergies: Bangun pipa minyak bypass Hormuz prioritas mutlak
Kamis, 25 Juni 2026
NEW YORK - CEO Patrick Pouyanné menyatakan bahwa TotalEnergies perlu memprioritaskan pengembangan jaringan pipa yang memungkinkan ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Seperti dikutip Oil&Gas, berbicara dalam sebuah konferensi energi di Paris, Pouyanné mengatakan krisis Iran baru-baru ini menunjukkan risiko strategis yang timbul akibat ketergantungan pada jalur pelayaran tersebut.
TotalEnergies merupakan salah satu perusahaan minyak internasional yang paling terpapar risiko di Timur Tengah, di mana konflik telah mengganggu Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia menuju pasar global.
"Kenyataannya, Selat Hormuz merupakan ancaman nyata, sehingga kita harus bertindak," kata Pouyanné.
"Agar jalur tersebut tidak terus menjadi ancaman, hanya ada satu solusi: kita harus berinvestasi dalam jaringan pipa yang dapat menghindari Selat Hormuz. Itu adalah prioritas mutlak."
Pouyanné menyoroti sejumlah rute ekspor alternatif yang potensial dari Abu Dhabi dan Irak, termasuk jalur yang melewati Suriah.
"Ketika Anda berada di Irak dan perlu mencapai laut, Anda bisa menuju selatan melalui Kuwait dan Arab Saudi, atau bergerak ke arah Suriah maupun Turki," ujarnya.
Pouyanné juga menyinggung sejarah panjang TotalEnergies di Irak, tempat perusahaan tersebut menemukan minyak pada tahun 1928.
Menurutnya, perusahaan pernah membangun pipa Irak–Suriah hanya dalam waktu enam tahun, yang memungkinkan minyak mentah diangkut melintasi Laut Mediterania menuju kilang di wilayah selatan Prancis.
Pada masa itu, minyak tersebut diangkut menggunakan kapal tanker terbesar di dunia.
"Jika para pendahulu kami mampu melakukannya 100 tahun lalu, saya yakin kita juga mampu melakukannya kembali saat ini," kata Pouyanné.
Pernyataannya mencerminkan meningkatnya perhatian industri terhadap pembangunan infrastruktur yang dapat mengurangi ketergantungan pada jalur-jalur sempit strategis (chokepoints) serta memperkuat ketahanan ekspor energi dari Timur Tengah. (DK)