Jelang KTT NATO, AS siapkan penjualan mesin jet tempur ke Turki

Kamis, 25 Juni 2026

image

NEW YORK - Pemerintahan Presiden Donald Trump berencana melanjutkan penjualan puluhan mesin jet kepada Turkey senilai ratusan juta dolar AS, meskipun mendapat keberatan dari sejumlah anggota Kongres AS. 

Empat sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan pada Rabu bahwa langkah ini merupakan isyarat penting bagi Ankara menjelang KTT NATO yang akan digelar di sana bulan depan.

Seperti dikutip Reuters, mesin-mesin yang diproduksi oleh General Electric itu akan digunakan untuk pesawat tempur nasional pertama Turki, KAAN. 

Proyek besar tersebut diluncurkan pada 2016 sebagai bagian dari upaya Ankara untuk meningkatkan kemandirian di sektor pertahanan. Salah satu sumber menyebut nilai paket penjualan itu melebihi US$700 juta.

Turki dan Amerika Serikat secara umum menikmati hubungan yang hangat di bawah Trump, yang kerap memuji Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. 

Namun, hubungan kedua negara sempat diuji oleh perselisihan panjang terkait keputusan Washington mengeluarkan Turki dari program jet tempur siluman F-35 Lightning II dan menjatuhkan sanksi setelah Ankara membeli sistem pertahanan udara Rusia S-400 Triumf, yang menurut AS menimbulkan risiko keamanan.

Ketika ditanya mengenai mesin jet, program F-35, dan rencananya menghadiri KTT di Ankara, Trump mengatakan, "Saya mungkin akan melakukan sesuatu yang akan membuat mereka sangat senang."

Meski penjualan mesin tersebut kemungkinan akan disambut baik oleh Ankara, para analis menilai langkah itu masih jauh dari tujuan utama Turki untuk kembali bergabung dalam program F-35.

Direktur Program Turki di Middle East Institute, Gonul Tol, mengatakan bahwa memperoleh mesin jet memang penting bagi Turki, tetapi merupakan target yang paling mudah dicapai dibanding janji-janji yang lebih besar dari Washington, termasuk kemungkinan kembalinya Turki ke program F-35.

"Ujian sesungguhnya apakah Washington dan Ankara dapat membuka babak baru dalam hubungan bilateral terletak pada isu tersebut," kata Tol.

Berdasarkan hukum AS, Turki tidak diperbolehkan mengoperasikan atau memiliki sistem S-400 jika ingin kembali bergabung dalam program F-35. 

Namun, Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack mengatakan pada Desember bahwa hubungan baik antara Trump dan Erdogan membantu kedua negara mengadakan pembicaraan paling produktif mengenai isu tersebut dalam hampir satu dekade.

Kementerian Luar Negeri Turki menolak memberikan komentar terkait laporan ini.

Turki akan menjadi tuan rumah pertemuan para pemimpin NATO di tengah ketegangan dalam aliansi mengenai pembagian beban pertahanan, belanja militer, dan keluhan AS terhadap kontribusi sekutunya dalam menjaga Strait of Hormuz tetap terbuka selama perang AS-Iran.

Pembelian sistem pertahanan udara Rusia oleh Turki pada 2019 sempat mengurangi dukungan Kongres terhadap sekutu AS tersebut, meskipun para legislator akhirnya menyetujui penjualan jet tempur F-16 Fighting Falcon pada 2024.

Sebagian penolakan itu masih bertahan. Anggota DPR dari New York, Gregory Meeks, yang merupakan Demokrat senior di Komite Hubungan Luar Negeri DPR, disebut telah menyampaikan keberatan selama proses peninjauan informal dan belum memberikan persetujuan terhadap paket tersebut.

Dalam pernyataannya pada Rabu, Meeks mengkritik apa yang ia sebut sebagai kegagalan pemerintah memberikan penjelasan yang memadai mengenai dampak penjualan tersebut terhadap hubungan bilateral maupun kepemilikan sistem S-400 oleh Turki.

"Peralatan ini tidak akan dikirimkan selama bertahun-tahun, dan pemerintah berulang kali mengabaikan permintaan informasi serta klarifikasi mengenai aspek-aspek penting kebijakan AS," kata Meeks.

Meski demikian, sumber-sumber tersebut mengatakan keputusan untuk melanjutkan penjualan diperkirakan akan difinalisasi dalam beberapa hari ke depan, kemudian diikuti pemberitahuan resmi dari United States Department of State kepada Kongres. 

Proses peninjauan Kongres memang memungkinkan anggota parlemen memberikan masukan, tetapi keberatan mereka tidak mengikat jika pemerintah tetap ingin melanjutkan transaksi.

Pemerintahan Trump sebelumnya juga pernah melewati atau mengancam akan melewati keberatan Kongres dalam sejumlah penjualan senjata lainnya.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri AS mengatakan bahwa pemerintah tidak mengomentari transfer senjata yang masih dalam proses.

Berbicara bersama Trump, Wakil Presiden JD Vance mengatakan pemerintah sedang meninjau apakah Turki telah memenuhi ketentuan hukum AS agar dapat menerima jet tempur F-35.

Ia menyebut Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan timnya tengah meninjau berbagai persyaratan yang harus dipenuhi sesuai hukum Amerika.

Merasa frustrasi dengan hubungan yang naik turun dengan Barat dan sejumlah embargo senjata, Turki mengembangkan pesawat tempur siluman KAAN.

Namun, para pejabat mengakui bahwa akan diperlukan waktu bertahun-tahun sebelum pesawat tersebut dapat menggantikan armada F-16 buatan AS yang saat ini menjadi tulang punggung angkatan udara Turki.

Keputusan AS untuk melanjutkan penjualan ini muncul hampir setahun setelah Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan secara terbuka mengeluhkan lambatnya proses persetujuan transaksi tersebut. (DK)