Aturan baru China pangkas biaya investasi baterai solid state
Kamis, 25 Juni 2026
TIONGKOK - Standar nasional baru China untuk baterai solid-state yang akan berlaku mulai 1 Juli 2026 berpotensi mengubah perhitungan investasi industri, termasuk bagi produsen baterai terbesar seperti CATL dan BYD.
Seperti dikutip CarNewsChina.com, regulasi tersebut dinilai dapat memangkas ekspektasi permintaan peralatan manufaktur yang sebelumnya diperkirakan mencapai 59,2 miliar yuan atau sekitar US$8,73 miliar.
Berdasarkan standar GB/T 43568-2026, baterai yang masih mengandung elektrolit cair sebesar 5%-20% akan diklasifikasikan sebagai baterai hibrida (semi-solid-state).
Sementara itu, baterai solid-state murni harus memiliki kandungan elektrolit cair di bawah 5% serta memenuhi persyaratan stabilitas termal tertentu.
Aturan baru ini menegaskan bahwa sebagian besar teknologi baterai yang akan diproduksi massal dalam waktu dekat masih berada dalam kategori hibrida, bukan solid-state penuh. Kondisi tersebut mengurangi kebutuhan untuk membangun lini produksi baru secara menyeluruh.
Evaluasi industri menunjukkan fasilitas produksi baterai lithium-ion konvensional masih dapat digunakan untuk memproduksi baterai semi-solid-state dengan modifikasi peralatan kurang dari 10%.
Hal ini membuat produsen dapat memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada tanpa harus melakukan investasi besar-besaran.
Saat ini, biaya pembangunan lini produksi khusus baterai solid-state penuh diperkirakan mencapai 400 juta-500 juta yuan per GWh kapasitas.
Namun, biaya tersebut diproyeksikan turun menjadi sekitar 200 juta yuan per GWh pada 2030 seiring perkembangan teknologi.
Sejumlah produsen otomotif dan baterai juga masih berfokus pada pengembangan baterai hibrida. Dongfeng, misalnya, menargetkan produksi massal paket baterai semi-solid-state dengan memanfaatkan fasilitas yang telah ada untuk menekan belanja modal.
Di sisi lain, proyek percontohan baterai berbasis sulfida yang dijalankan sejumlah produsen besar lebih difokuskan pada penyempurnaan stabilitas antarmuka material ketimbang peningkatan kapasitas produksi.
Eksekutif CATL baru-baru ini juga menegaskan bahwa komersialisasi baterai solid-state penuh masih menghadapi berbagai kendala teknis.
Lembaga riset seperti Chinese Academy of Sciences turut menyoroti perlunya pengujian jangka panjang terhadap material elektrolit dan antarmuka baterai sebelum teknologi tersebut dapat diproduksi secara massal dengan sistem otomatis.
Sebelumnya, sejumlah analis memperkirakan transisi menuju baterai generasi baru akan menciptakan permintaan peralatan manufaktur hingga 59,2 miliar yuan.
Namun, proyeksi tersebut kini berpotensi direvisi karena baterai cair konvensional masih mendominasi pasar dan adopsi baterai solid-state diperkirakan berlangsung secara bertahap.
Data pemasangan baterai kendaraan listrik di China menunjukkan CATL masih memimpin pasar dengan volume 33,08 GWh atau pangsa pasar 46,7%.
Posisi berikutnya ditempati BYD dengan 11,87 GWh atau 16,8%, disusul Gotion High-tech sebesar 4,44 GWh. CALB membukukan 4,3 GWh dengan pangsa 6,1%, sementara Eve Energy mencatat 3,23 GWh atau 4,6% pangsa pasar.
Dominasi baterai berbasis elektrolit cair tersebut menunjukkan bahwa aset produksi yang ada saat ini masih menjadi tulang punggung industri.
Karena itu, strategi investasi peralatan diperkirakan akan lebih berfokus pada transisi bertahap menuju baterai hibrida sebelum adopsi penuh teknologi solid-state mengubah rantai pasok industri secara lebih luas. (DK)