China perketat rating AAA, biaya utang emiten terancam naik

Kamis, 25 Juni 2026

image

JAKARTA - Otoritas China mulai mengambil langkah tegas untuk mengurangi dominasi peringkat kredit AAA di pasar obligasi domestik yang selama ini dinilai terlalu longgar dan kurang mencerminkan risiko kredit sebenarnya.

Seperti dikutip Bloomberg, Bank Sentral China atau People's Bank of China (PBOC) meminta perusahaan pemeringkat lokal meninjau kembali status kredit emiten yang berada dalam cakupan penilaian mereka.

Menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, regulator meminta lembaga pemeringkat mengevaluasi apakah sejumlah emiten masih layak mempertahankan peringkat AAA berdasarkan standar terbaru yang lebih ketat.

Salah satu indikator yang akan digunakan adalah selisih imbal hasil (spread) antara obligasi saat diterbitkan dan obligasi pemerintah dengan tenor sebanding.

Emiten dengan spread di atas 200 basis poin berpotensi kehilangan status AAA, meski keputusan akhir tetap mempertimbangkan sejumlah faktor lain.

Selama bertahun-tahun, regulator China menghadapi kritik terkait tingginya proporsi emiten berperingkat AAA yang dinilai menyulitkan investor membedakan kualitas kredit antarperusahaan.

Data Securities Association of China, menunjukkan sekitar 27% dari lebih dari 6.000 penerbit obligasi di negara tersebut mengantongi peringkat AAA pada akhir kuartal pertama tahun2026. Sebanyak 32% lainnya berada satu tingkat di bawahnya, yakni AA+.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pasar obligasi negara maju. Data Bloomberg menunjukkan kurang dari 1% obligasi korporasi yang beredar di Amerika Serikat memiliki peringkat AAA dari tiga lembaga pemeringkat internasional utama.

Pengetatan standar ini berpotensi meningkatkan biaya pendanaan bagi sejumlah perusahaan yang selama ini menikmati keuntungan dari peringkat kredit tertinggi. Semakin rendah peringkat suatu emiten, semakin tinggi imbal hasil yang biasanya diminta investor untuk membeli obligasi perusahaan tersebut.

Kekhawatiran mengenai inflasi peringkat kredit semakin menguat setelah serangkaian kasus gagal bayar mengungkap kelemahan sistem penilaian risiko di China.

Salah satu contoh yang menjadi sorotan adalah China Vanke Co., pengembang properti yang masih menyandang peringkat AAA domestik hingga akhir tahun lalu meski tengah menghadapi tekanan likuiditas dan meminta penundaan pembayaran obligasi kepada investor.

Pada awal Desember lalu, Vanke bahkan menghentikan kerja sama dengan lembaga pemeringkat domestik.

Sebelumnya, regulator China juga telah mengumpulkan sejumlah perusahaan pemeringkat utama untuk membahas inflasi rating, kelemahan sistem peringatan dini risiko, serta upaya memperkuat tata kelola industri pemeringkatan.(DH)