BI rate naik, yield SBN berpotensi sentuh level 8%

Kamis, 25 Juni 2026

image

JAKARTA - Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) kembali menanjak setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75% pada 18 Juni 2026.

Yield SBN tenor 10 tahun tercatat mencapai 7,218% pada Selasa (23/6), melonjak dari sekitar 6,8% sepekan sebelumnya.

Kenaikan yield umumnya sejalan dengan peningkatan suku bunga acuan.

Seperti dikutip Kontan, ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai lonjakan yield kali ini tidak semata-mata mencerminkan respons pasar terhadap kebijakan moneter BI.

Menurutnya, kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin dalam satu bulan terakhir memang mendorong penyesuaian harga obligasi karena investor memperhitungkan biaya dana yang lebih tinggi. Namun, pergerakan yield saat ini juga menunjukkan meningkatnya premi risiko Indonesia di mata pelaku pasar.

Di tengah upaya BI menjaga stabilitas nilai tukar, rupiah masih berada dalam tren pelemahan dan tercatat di level Rp17.859 per dolar AS pada Selasa (23/6).

Pada saat yang sama, premi risiko Indonesia yang tercermin dari Credit Default Swap (CDS) mengalami kenaikan, volatilitas nilai tukar meningkat, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam.

Kondisi tersebut dinilai mencerminkan proses penilaian ulang investor terhadap prospek ekonomi dan arah kebijakan domestik.

Tekanan eksternal juga turut membebani pasar, terutama dari ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang diperkirakan tetap tinggi.

“Karena itu, tren yield SBN masih berpotensi bertahan tinggi selama dolar kuat, BI mempertahankan kebijakan higher for longer, dan pemerintah belum berhasil memulihkan kepercayaan pasar,” ungkap Syafruddin saat dihubungi Kontan, Selasa (23/6).

Ia memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun berpotensi bergerak dalam rentang 7,25%-7,60% hingga akhir 2026 apabila BI mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Menurut Syafruddin, risiko kenaikan yield masih terbuka apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut, Federal Reserve tetap mempertahankan sikap hawkish, serta muncul kekhawatiran investor terhadap tata kelola Danantara dan implementasi Pasal 50A dalam revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang mengatur penerbitan surat utang khusus oleh Danantara.

Dalam skenario tersebut, yield SBN 10 tahun berpotensi mendekati kisaran 7,75%-8,00%.

“Level di atas 8% akan menjadi sinyal serius bahwa pasar tidak lagi hanya merespons suku bunga, tetapi juga menghukum risiko kredibilitas kebijakan,” pungkasnya.(DH)