CFO Chevron: Harga bensin AS tak akan turun secepat yang diminta Trump
Kamis, 25 Juni 2026
NEW YORK - Chevron memperkirakan harga bensin di Amerika Serikat akan turun seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah, tetapi menegaskan penurunan itu tidak akan terjadi secara instan meski Presiden Donald Trump terus mendesak perusahaan-perusahaan minyak besar untuk segera menurunkan harga di SPBU.
Dikutip dari CNBC, Chief Financial Officer Chevron, Eimear Bonner, mengatakan bahwa penurunan harga bahan bakar membutuhkan waktu karena ada jeda antara turunnya harga minyak mentah dan dampaknya ke harga jual bensin di tingkat konsumen.
Pernyataan Bonner muncul tak lama setelah Trump memerintahkan penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan minyak besar, dengan menuduh mereka membebani konsumen melalui harga bensin yang tidak turun sejalan dengan pelemahan harga minyak mentah.
“Kami semua peduli pada harga. Kami memiliki empati besar terhadap konsumen, baik di AS, Inggris, maupun Eropa,” kata Bonner dalam wawancara dengan CNBC pada Kamis (26/6).
Namun, ia menegaskan penurunan harga tidak bisa terjadi dalam sekejap. Menurut dia, harga akan turun seiring normalisasi kondisi pasar energi.
Saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu (24/6), Trump menyebut nama Chevron, Exxon Mobil, Shell, dan BP, seraya mengatakan harga bensin di SPBU seharusnya bisa jauh lebih rendah. Ia menilai harga bensin seharusnya berada di level US$2,25 per galon, sementara saat ini masih lebih tinggi dari itu.
Bonner mengatakan perusahaan-perusahaan energi besar pada dasarnya telah melakukan segala upaya yang bisa ditempuh untuk menjaga pasokan energi dan menekan harga. Khusus Chevron, ia mengatakan perusahaan menargetkan pertumbuhan produksi 7%-10% tahun ini.
Menurut dia, Chevron terus mengoptimalkan operasi di tengah konflik dan memanfaatkan berbagai instrumen yang dimiliki untuk memastikan pasokan energi ke pasar global tetap terjaga sekaligus menyalurkan produk ke konsumen.
Trump pada Rabu (24/6) juga mengatakan telah memerintahkan Departemen Kehakiman AS untuk segera menyelidiki situasi tersebut. Juru bicara Departemen Kehakiman menyebukan bahwat harga bahan bakar bukan hanya isu keamanan nasional, tetapi juga berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat Amerika.
Harga minyak sendiri telah turun tajam sejak AS dan Iran menandatangani kesepakatan damai sementara pekan lalu, meski Washington dan Teheran masih berselisih soal sejumlah rincian dalam nota kesepahaman 14 poin itu.
Harga minyak mentah dunia kompak melemah pada perdagangan Kamis (25/6). Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Agustus 2026 merosot 1,3% ke level US$72,75 per barel, kian mendekati level terendah sebelum pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari lalu.
Sejalan dengan itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus 2026 juga melemah 1,1% menjadi US$69,60 per barel. (ARF)