Ross Gerber: Waymo lebih aman dibanding FSD Tesla

Kamis, 25 Juni 2026

image

LOS ANGELES – Investor kawakan Ross Gerber menilai layanan robotaxi Waymo milik Alphabet jauh lebih aman dan memiliki fitur yang lebih matang dibandingkan sistem kemudi otomatis Full Self-Driving (FSD) milik Tesla. Pernyataan ini sekaligus melempar keraguan baru: apakah perusahaan besutan Elon Musk tersebut mampu mengejar ketertinggalan teknologi otonomnya?

Dikutip dari YahooFinance, pendiri Gerber Kawasaki tersebut mengungkapkan pengalamannya melalui unggahan di platform X. Setelah menggunakan Waymo untuk bepergian belakangan ini, Gerber menilai performa kendaraan otonom tersebut bahkan mengemudi lebih baik daripada manusia di area padat seperti Los Angeles.

Menurut Gerber, salah satu keunggulan krusial Waymo terletak pada pendekatannya dalam memitigasi titik lalu lintas yang rumit. Waymo sengaja dilatih untuk menghindari area atau belokan tertentu yang kerap menjadi titik kegagalan (failure points) pada Tesla, meskipun konsekuensinya rute perjalanan menjadi sedikit lebih panjang.

Pendekatan preventif inilah yang membuat sistem Waymo dinilai lebih aman dan matang, hingga ia merasa kedua teknologi tersebut sudah tidak lagi apel-ke-apel untuk dibandingkan. Gerber secara konsisten mempertanyakan apakah strategi Tesla yang murni mengandalkan kamera (vision-based FSD) tanpa radar/Lidar mampu menandingi keandalan operator robotaxi lain.

Sentimen miring dari kalangan investor ini mencuat justru di tengah ekspansi agresif layanan robotaxi Tesla di Texas (mencakup wilayah Houston, Austin, dan Dallas) dengan armada gabungan sekitar 69 kendaraan. Dari sisi komersial, tarif robotaxi Tesla diklaim lebih kompetitif dibanding Waymo, serta lebih murah ketimbang layanan ride-hailing konvensional seperti Uber dan Lyft.

Ambisi otonom Tesla sebenarnya mendapat angin segar dari Direktur Eksekutif Departemen Transportasi Texas, Marc Williams, yang menyebut Cybercab Tesla sebagai pendobrak lanskap mobilitas masa depan.

Namun, kendala struktural Tesla tetap berada pada isu keselamatan. Sejumlah mantan pelabel data (data labelers) dan insinyur perusahaan sebelumnya sempat mempertanyakan validitas data keselamatan serta keandalan sistem FSD dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Waymo terus menancapkan kuku bisnisnya dengan meluncurkan layanan berlangganan premium, Waymo Premier, bagi pengguna rutin di San Francisco, Los Angeles, dan Phoenix. Dengan biaya US$29,99 per bulan, pelanggan dijanjikan waktu penjemputan yang lebih cepat serta akses awal ke wilayah ekspansi baru.

Kendati berada di atas angin, Waymo bukan tanpa celah. Berdasarkan dokumen National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), Waymo terpaksa menarik (recall) hampir 4.000 unit robotaxi generasi kelimanya menyusul temuan gangguan sistem yang berpotensi membuat kendaraan melaju terlalu cepat di zona konstruksi jalan. (IDNFinancials/ARF)

Ross Gerber adalah seorang investor institusional terkemuka, komentator finansial, serta salah satu pendiri, Presiden, dan CEO dari Gerber Kawasaki Wealth & Investment Management, sebuah firma manajemen kekayaan independen yang mengelola aset bernilai miliaran dolar yang berbasis di Santa Monica, California.

Gerber dikenal luas di komunitas investasi global karena rekam jejaknya sebagai salah satu investor awal dan pendukung vokal Tesla (TSLA).

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ia bertransformasi menjadi salah satu kritikus paling tajam terhadap tata kelola perusahaan (corporate governance) Tesla serta keputusan strategis Elon Musk.

Sebagai investor yang berfokus pada teknologi masa depan (future-based tech) dan sektor keberlanjutan, pandangan Gerber sering kali menjadi barometer sentimen pasar modal Wall Street terhadap peta persaingan industri kendaraan otonom (autonomous vehicle) dan kecerdasan buatan (AI).

Pendiri Gerber Kawasaki tersebut mengungkapkan pengalamannya melalui unggahan di platform X. Setelah menggunakan Waymo untuk bepergian belakangan ini, Gerber menilai performa kendaraan otonom tersebut bahkan mengemudi lebih baik daripada manusia di area padat seperti Los Angeles.

Menurut Gerber, salah satu keunggulan krusial Waymo terletak pada pendekatannya dalam memitigasi titik lalu lintas yang rumit. Waymo sengaja dilatih untuk menghindari area atau belokan tertentu yang kerap menjadi titik kegagalan (failure points) pada Tesla, meskipun konsekuensinya rute perjalanan menjadi sedikit lebih panjang.

Pendekatan preventif inilah yang membuat sistem Waymo dinilai lebih aman dan matang, hingga ia merasa kedua teknologi tersebut sudah tidak lagi apel-ke-apel untuk dibandingkan. Gerber secara konsisten mempertanyakan apakah strategi Tesla yang murni mengandalkan kamera (vision-based FSD) tanpa radar/Lidar mampu menandingi keandalan operator robotaxi lain.

Sentimen miring dari kalangan investor ini mencuat justru di tengah ekspansi agresif layanan robotaxi Tesla di Texas (mencakup wilayah Houston, Austin, dan Dallas) dengan armada gabungan sekitar 69 kendaraan. Dari sisi komersial, tarif robotaxi Tesla diklaim lebih kompetitif dibanding Waymo, serta lebih murah ketimbang layanan ride-hailing konvensional seperti Uber dan Lyft.

Ambisi otonom Tesla sebenarnya mendapat angin segar dari Direktur Eksekutif Departemen Transportasi Texas, Marc Williams, yang menyebut Cybercab Tesla sebagai pendobrak lanskap mobilitas masa depan.

Namun, kendala struktural Tesla tetap berada pada isu keselamatan. Sejumlah mantan pelabel data (data labelers) dan insinyur perusahaan sebelumnya sempat mempertanyakan validitas data keselamatan serta keandalan sistem FSD dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Waymo terus menancapkan kuku bisnisnya dengan meluncurkan layanan berlangganan premium, Waymo Premier, bagi pengguna rutin di San Francisco, Los Angeles, dan Phoenix. Dengan biaya US$29,99 per bulan, pelanggan dijanjikan waktu penjemputan yang lebih cepat serta akses awal ke wilayah ekspansi baru.

Kendati berada di atas angin, Waymo bukan tanpa celah. Berdasarkan dokumen National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), Waymo terpaksa menarik (recall) hampir 4.000 unit robotaxi generasi kelimanya menyusul temuan gangguan sistem yang berpotensi membuat kendaraan melaju terlalu cepat di zona konstruksi jalan. (IDNFinancials/ARF)

Kritikus Tesla

Ross Gerber adalah seorang investor institusional terkemuka, komentator finansial, serta salah satu pendiri, Presiden, dan CEO dari Gerber Kawasaki Wealth & Investment Management, sebuah firma manajemen kekayaan independen yang mengelola aset bernilai miliaran dolar yang berbasis di Santa Monica, California.

Gerber dikenal luas di komunitas investasi global karena rekam jejaknya sebagai salah satu investor awal dan pendukung vokal Tesla (TSLA).

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ia bertransformasi menjadi salah satu kritikus paling tajam terhadap tata kelola perusahaan (corporate governance) Tesla serta keputusan strategis Elon Musk.

Sebagai investor yang berfokus pada teknologi masa depan (future-based tech) dan sektor keberlanjutan, pandangan Gerber sering kali menjadi barometer sentimen pasar modal Wall Street terhadap peta persaingan industri kendaraan otonom (autonomous vehicle) dan kecerdasan buatan (AI). (ARF)