Berani bayar premi tinggi, pasar derivatif bitcoin beri sinyal panik?
Jumat, 26 Juni 2026
NEW YORK - Pasar derivatif bitcoin mulai memancarkan sinyal kepanikan seiring langkah investor yang rela membayar premi tinggi demi mengamankan perlindungan terhadap penurunan harga (downside protection).
Meski demikian, rilis data inflasi inti Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menjadi katalis kuat yang memicu pembalikan arah harga secara cepat.
Dikutip dari CoinDesk, salah satu indikator yang mencerminkan kepanikan tersebut adalah one-week options skew bitcoin, yang menunjukkan premi hampir 25 poin untuk opsi jual atau put dibandingkan dengan opsi beli atau call. Kondisi ini menandakan pasar saat ini lebih condong memasang taruhan terhadap penurunan harga bitcoin.
[[ One-week options skew merupakan indikator yang mengukur perbedaan premi antara opsi jual (put) dan opsi beli (call) bitcoin untuk kontrak yang jatuh tempo dalam satu minggu. Semakin mahal premi put dibandingkan call, semakin besar kekhawatiran pasar terhadap risiko penurunan harga. ]]
Pola serupa terakhir kali terlihat pada awal Februari 2026, ketika bitcoin membentuk titik terendah sementara sedikit di atas angka US$60.000. Level tersebut kemudian mampu bertahan selama sekitar empat bulan.
Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data core personal consumption expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pukul 08.30 waktu setempat. Indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve itu diperkirakan naik 3,4% secara tahunan pada Mei 2026.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan 3,3% pada April 2026 dan menjadi level tertinggi sejak akhir 2023.
Core PCE sendiri merupakan ukuran inflasi yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang volatil.
Jika realisasi data berada di bawah ekspektasi pasar, hal itu dapat dibaca sebagai sinyal bahwa tekanan inflasi inti mulai mereda. Kondisi tersebut berpotensi melemahkan alasan bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga.
Bagi bitcoin, data inflasi yang lebih lunak dari perkiraan bisa menjadi pemicu perubahan sentimen secara cepat. Mata uang kripto terbesar itu sendiri telah pulih ke kisaran US$61.500 setelah sebelumnya menyentuh level terendah 20 bulan di sekitar US$59.000 pada Rabu (25/6).
Meski begitu, pasar juga mulai menilai data inflasi yang akan dirilis berpotensi bersifat usang atau stale, karena belum sepenuhnya mencerminkan penurunan harga minyak belakangan ini. Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kini turun ke sekitar US$70 per barel, jauh di bawah level di atas US$100 yang sempat terlihat selama perang Iran pada Maret dan April.
Sementara itu, inflasi utama atau headline inflation diperkirakan mencapai 4,1%, tertinggi sejak awal 2023, terutama didorong oleh lonjakan harga energi. Ekonom Mohamed A. El-Erian mengatakan bahwa perdebatan utama pasar saat ini bukan lagi apakah inflasi inti dan inflasi utama akan naik, melainkan seberapa relevan data tersebut terhadap kondisi terbaru.
Menurut dia, data Mei 2026 akan dirilis sebelum penurunan tajam harga minyak baru-baru ini, yang berpotensi menurunkan inflasi utama sekaligus meredakan sebagian tekanan pada inflasi inti. Karena itu, pasar juga mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa Mei menjadi puncak inflasi untuk periode saat ini.
Di luar data inflasi, CoinDesk juga menyoroti potensi volatilitas pada saham Strategy, baik saham biasa MSTR maupun saham preferen STRC, serta saham-saham berbasis kecerdasan buatan di Wall Street. Saham MSTR disebut tengah membentuk pola bearish utama yang cukup dikenal di pasar. (ARF)