World Gold Council: Arus keluar ETF pada Mei 2026 emas capai 16 ton

Jumat, 26 Juni 2026

image

NEW YORK - ETF berbasis emas berpotensi kembali mencatat arus keluar jika investor terus berspekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat, sebuah faktor yang dapat menambah tekanan pada harga emas yang sudah turun tajam.

 Dikutip dari Reuters, harga emas spot pada Rabu (24/6) turun di bawah level psikologis US$4.000 per ons untuk pertama kalinya sejak November 2025. Penurunan itu terjadi di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.

Analis Julius Baer Carsten Menke mengatakan arus dana di ETF emas sangat erat terkait dengan arah kebijakan moneter AS, terutama pada produk yang ditopang emas fisik.

Menurut dia, perubahan ekspektasi terhadap suku bunga akan tercermin langsung dalam aksi beli atau jual investor di instrumen tersebut.

 Data World Gold Council menunjukkan ETF berbasis emas mencatat arus keluar bersih 16 ton pada Mei 2026 dan masih mengalami arus keluar pada paruh pertama Juni. Meski demikian, dana-dana tersebut sempat mencatat arus masuk mingguan terkuat sejak pertengahan April pada pekan lalu.

Analis ING menilai arus masuk terbaru itu menunjukkan tekanan jual mungkin mulai mereda, tetapi permintaan ETF diperkirakan tetap tidak sekuat pada 2025. Standard Chartered juga mencatat bahwa pada level harga saat ini, lebih dari 200 ton emas yang tersimpan dalam ETF berada dalam posisi rugi.

Ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga tahun ini sebelumnya menjadi salah satu pendorong utama reli emas sepanjang 2025 hingga harga spot menyentuh rekor US$5.594,82 per ons pada Januari.

Namun, lonjakan harga energi setelah perang Iran memicu kekhawatiran inflasi, mendorong bank-bank sentral termasuk The Fed mengadopsi nada yang lebih hawkish dan membuat pasar beralih dari bertaruh pada pemangkasan suku bunga menjadi kenaikan suku bunga.

Sejak puncak Januari, harga emas telah terkoreksi sekitar 29%.

 Head of research BullionVault, Adrian Ash, mengatakan bahwa kombinasi proyeksi suku bunga yang lebih tinggi dan derasnya penggalangan dana untuk sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mencerminkan pandangan pasar yang masih optimistis terhadap ekonomi AS, bahkan ekonomi global.

Dalam kondisi seperti itu, perhatian investor untuk sementara bergeser dari emas ke aset lain.

Meski begitu, sejumlah bank besar masih mempertahankan pandangan konstruktif terhadap emas, meski mengakui permintaan ETF menjadi salah satu hambatan utama bagi kenaikan harga lebih lanjut.

Morgan Stanley mengatakan proyeksi harga emas di US$5.200 per ons pada semester II-2026 kini makin bergantung pada kebangkitan kembali permintaan ETF dan bukti bahwa penurunan harga minyak benar-benar mendorong prospek suku bunga yang lebih dovish.

 Goldman Sachs juga menurunkan proyeksi harga emas untuk Desember serta memangkas perkiraan permintaan ETF. Namun, analis menilai pelemahan permintaan ETF masih bisa diimbangi oleh pembelian bank sentral, yang tahun lalu menjadi salah satu pendorong utama reli emas.

 Analis Standard Chartered Suki Cooper mengatakan jika permintaan dari sektor resmi terus tumbuh cepat, pembelian bank sentral berpotensi menutup kekurangan dari sisi permintaan ETF. (ARF)