MSCI ungkap alasan pasar saham terbaik dunia belum naik kelas
Jumat, 26 Juni 2026
JAKARTA — MSCI menilai Korea Selatan masih belum memenuhi syarat untuk naik status menjadi pasar maju karena pembatasan perdagangan mata uang won, meskipun negara tersebut memiliki salah satu pasar saham dengan kinerja terbaik di dunia.
Seperti dikutip CNBC, CEO MSCI Henry Fernandez mengatakan Korea Selatan sebenarnya telah mencapai tingkat kemajuan yang tinggi dari sisi ekonomi, teknologi, dan pembangunan sosial.
Namun, menurutnya, aspek yang menjadi perhatian utama MSCI adalah fungsi dan aksesibilitas pasar modal.
"Secara ekonomi dan teknologi, Korea Selatan adalah salah satu negara paling maju di dunia.
Namun dari sisi operasional pasar saham, masih terdapat sejumlah karakteristik yang lebih mirip pasar berkembang," ujar Fernandez kepada CNBC.
Tahun ini, indeks Kospi mencatat kinerja terbaik di dunia dengan kenaikan sekitar 112%, didorong oleh saham-saham teknologi besar seperti Samsung dan SK Hynix.
Meski demikian, MSCI tetap mempertahankan Korea Selatan dalam kategori pasar berkembang.
Fernandez menjelaskan bahwa investor global menghadapi kendala karena perdagangan won masih terbatas pada jam operasional pasar di Seoul.
Berbeda dengan mata uang negara maju lainnya yang dapat diperdagangkan hampir sepanjang waktu di berbagai pusat keuangan dunia, akses terhadap won dinilai masih kurang fleksibel.
Kondisi tersebut menyulitkan manajer investasi dan pengelola dana indeks dalam melakukan penyesuaian portofolio, terutama karena sekitar sepertiga dana global yang dikelola saat ini berbasis indeks.
MSCI mengakui Korea Selatan telah melakukan berbagai reformasi dan mencatat kemajuan signifikan.
Namun, lembaga tersebut masih mempertanyakan apakah pasar won memiliki likuiditas yang cukup besar dan spread yang kompetitif apabila diperdagangkan di luar jam kerja Seoul.
Dalam tinjauan klasifikasi pasar yang dirilis pekan ini, MSCI juga menyoroti sejumlah hambatan lain, termasuk sistem identifikasi investor yang dinilai kaku, pembatasan transfer aset secara langsung (in-kind transfer), keterbatasan transaksi di luar bursa, serta aturan penggunaan data bursa yang membatasi pengembangan produk investasi.
Meski Korea Selatan berencana meluncurkan perdagangan spot dolar AS-won selama 24 jam mulai 6 Juli, MSCI menilai efektivitas kebijakan tersebut masih perlu dibuktikan sebelum negara tersebut dapat dipertimbangkan masuk ke daftar pemantauan pasar maju (Developed Markets Watchlist).
Selama bertahun-tahun, Seoul berupaya memperoleh status pasar maju dari MSCI.
Saat ini Korea Selatan telah masuk kategori pasar maju menurut klasifikasi FTSE Russell.
Bahkan, awal tahun ini nilai kapitalisasi pasar Kospi berhasil melampaui indeks FTSE 100 London dan menjadi pasar saham nasional terbesar kedelapan di dunia. (DK)