Reli emas-perak melemah saat bank sentral AS makin hawkish

Kamis, 25 Juni 2026

image

NEW YORK — Harga emas dunia terus tertahan di sekitar level psikologis US$4.000 per ons, sementara perak bergerak stagnan di bawah US$60 per ons. Logam mulia dibayangi oleh tekanan dari sikap hawkish bank sentral serta kecemasan inflasi, yang dinilai masih membatasi peluang pemulihan harga dalam waktu dekat.

Seperti dikutip dari CNBC, harga emas di pasar spot pada perdagangan Kamis (25/6) pagi waktu AS bergerak datar di kisaran US$3.990,17 per ons. Pergerakan ini terjadi setelah pada sesi sebelumnya harga emas sempat ambles menembus level psikologis US$4.000. Emas sempat kembali melewati ambang batas tersebut pada Kamis pagi, sebelum akhirnya kembali melandai.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman terdekat ditutup turun tipis ke posisi US$4.006,60 per ons. Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan (year-to-date), harga komoditas pelindung kekayaan (safe haven) ini telah melemah sekitar 7,5%.

Setali tiga uang, perak juga masih berada di bawah tekanan berat. Harga spot perak hanya naik tipis 0,1% ke level US$57,49 per ons pada Kamis (25/6) pagi setelah sempat melemah. Sedangkan kontrak berjangka perak untuk pengiriman Juli merosot 1,2% ke US$57,41 per ons. Sejak awal tahun, harga spot perak telah terkoreksi hampir 20%.

Koreksi tajam ini membayangi emas dan perak setelah keduanya mencetak reli besar-besaran sepanjang tahun 2025. Tahun lalu, harga emas melonjak hingga 66%, sementara perak melesat 135%. Kendati tren penguatan sempat berlanjut pada awal 2026, pergerakan kedua komoditas ini berbalik menjadi sangat volatil.

Kontrak perak bahkan sempat mencatat penurunan harian terbesar sejak dekade 1980-an pada akhir Januari lalu. Di sisi lain, status emas sebagai aset safe haven mulai dipertanyakan setelah pecahnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran pada Februari 2026.

Analis Komoditas Macquarie dalam catatan risetnya menilai perhatian pasar kini tertuju penuh pada arah inflasi dan kebijakan moneter bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed), dalam meredam tekanan harga.

Menurut Macquarie, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta nada The Fed yang kian hawkish memicu aksi jual emas karena daya tarik lindung nilainya memudar di tengah prospek suku bunga tinggi dan keperkasaan dolar AS.

Berdasarkan indikator CME FedWatch, pelaku pasar saat ini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed paling cepat pada September mendatang.

Langkah pengetatan ini diikuti secara global; Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BoJ) juga telah mengerek suku bunga acuan mereka bulan ini sebagai respons terhadap guncangan sektor energi akibat perang Iran.

Macquarie menyoroti bahwa pertemuan perdana di bawah Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menunjukkan sinyal kebijakan yang sangat hawkish. Di bawah kepemimpinannya, bank sentral AS dinilai memegang kendali penuh untuk menekan atau justru menopang harga emas, tergantung pada arah kebijakan ekonomi yang diambil.

Proyeksi Harga Hingga 2030

Lembaga keuangan tersebut memperkirakan harga rata-rata emas pada tahun 2026 masih berpeluang mencapai US$4.641 per ons, atau naik 35% secara tahunan (*year-on-year*). Namun, mereka memproyeksikan harga emas bakal merosot 9,5% menjadi US$4.200 per ons pada 2027, dan diprediksi terus melemah secara bertahap hingga tahun 2030.

Macquarie juga memangkas target harga spot emas akhir tahun 2026 menjadi US$4.300 dari proyeksi awal sebesar US$4.400 per ons.

Analisis Macquarie untuk Perak: "Tekanan harga perak bulan lalu dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking). Sementara pergerakan saat ini murni didikte faktor makroekonomi, terutama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Perak lebih rentan terkoreksi tajam karena sebelumnya naik terlalu cepat (overvalued) yang didorong oleh sentimen spekulatif bullish, pasokan ketat, serta rendahnya inventori gudang."

Meski Wall Street cenderung memangkas target harga, tidak semua pelaku pasar bersikap pesimistis. Co-founder RiskReversal Media, Guy Adami, menegaskan emas masih tetap relevan di tengah berbagai sentimen negatif.

Ia menilai meskipun inflasi masih menjalar dan suku bunga berpotensi naik lebih tinggi, pada titik jenuh tertentu kondisi tersebut akan berbalik dan memicu investor kembali memburu emas.

Pandangan Adami sejalan dengan tren akumulasi bank sentral. Survei tahunan World Gold Council (WGC) yang dirilis pekan lalu menunjukkan hampir 90% bank sentral responden memperkirakan cadangan emas global akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan. Emas tetap dipandang sebagai instrumen diversifikasi terbaik terhadap inflasi dan risiko geopolitik.

Namun untuk jangka pendek, analis OCBC mengingatkan bahwa jalan terjal masih membayangi emas selama imbal hasil riil (real yield) belum melandai. Selama arus modal keluar (outflow) dari ETF emas belum mereda dan retorika hawkish The Fed terus mendominasi pasar, reli harga logam mulia dinilai masih sangat rentan memudar. (ARF)