Ray Dalio: Dunia mulai ragu AS mampu pertahankan dominasinya
Jumat, 26 Juni 2026
NEW YORK - Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, menilai tatanan dunia tengah bergeser cepat, dengan semakin banyak pemimpin global melihat Amerika Serikat tidak lagi memiliki kapasitas politik maupun daya tahan untuk mempertahankan dominasinya, sementara Tiongkok kian mengukuhkan pengaruhnya lewat pendekatan ekonomi dan diplomasi.
Dikutip dari YahooFinance, pandangan itu disampaikan Dalio setelah menyelesaikan perjalanan 10 hari ke Tiongkok sebagai bagian dari tur Asia selama sebulan.
Dalam esai yang dipublikasikan pada 18 Juni 2026, Dalio mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran besar dalam tatanan dunia dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut dia, salah satu pemicu perubahan persepsi tersebut adalah cara Washington menangani krisis Selat Hormuz.
Dalio menilai episode itu membuat banyak pemimpin Asia, termasuk negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, semakin yakin bahwa publik Amerika tidak memiliki kemauan untuk menanggung beban perang dan bahwa Washington tidak lagi memiliki kapasitas untuk berjuang untuk mempertahankan kedaulatannya.
Ia membandingkan situasi tersebut dengan krisis Terusan Suez yang menandai merosotnya Kekaisaran Inggris. Menurut dia, posisi AS saat ini mulai menyerupai fase ketika kekuatan dominan global kehilangan kredibilitas di mata sekutu maupun rivalnya.
Ia mengatakan dalam kunjungannya ke Beijing, yang terlihat bukan sekadar rivalitas terbuka antara AS dan Tiongkok, melainkan pergeseran diplomatik yang lebih halus.
Dalio menilai banyak pemimpin dunia kini datang ke Beijing untuk membangun hubungan yang menyerupai tribute system, yakni tatanan hierarkis kuno di mana negara-negara lain mengakui posisi Tiongkok sebagai kekuatan utama dengan imbalan akses ekonomi dan stabilitas.
Dalam pandangan Dalio, Tiongkok tengah membangun versi modern dari sistem tersebut. Berbeda dari model imperium Barat yang bertumpu pada pendudukan atau kontrol langsung, pendekatan Beijing dinilai lebih menekankan pengaruh ekonomi, hubungan diplomatik, dan tekanan finansial.
Dalio mengaitkan strategi itu dengan ingatan historis Tiongkok atas apa yang disebut sebagai 100 Years of Humiliation, yakni periode panjang sejak Perang Candu 1839 hingga berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949, ketika negara itu mengalami invasi asing, perjanjian tidak setara, dan kemunduran pengaruh di berbagai kawasan.
Menurut dia, pengalaman sejarah itu masih sangat membekas dalam cara para pemimpin Tiongkok memandang reunifikasi dengan Taiwan dan penataan ulang posisi negaranya di kawasan.
Ia juga menduga Presiden Xi Jinping ingin mendorong reunifikasi dengan Taiwan pada masa jabatan berikutnya yang berpotensi dimulai pada 2028.
Dalio menilai skenario itu tidak harus ditempuh lewat invasi militer langsung, melainkan bisa melalui tekanan ekonomi, diplomatik, dan politik yang terus-menerus.
Dalam menjelaskan pendekatan Tiongkok, Dalio merujuk pada The Art of War karya Sun Tzu, khususnya gagasan bahwa kemenangan terbaik adalah menaklukkan lawan tanpa harus bertempur.
Menurut dia, China kemungkinan akan terus menekan Taiwan dan melemahkan kebijakan pembendungan AS bukan lewat perang terbuka, melainkan melalui ancaman, tekanan ekonomi, dan penguatan posisi strategisnya secara bertahap.
Dalio menilai salah satu sumber daya tawar terpenting Tiongkok adalah Taiwan, yang memproduksi sebagian besar semikonduktor paling canggih di dunia. Chip tersebut menjadi fondasi utama perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut dia, ancaman terhadap pasokan chip Taiwan saja sudah cukup untuk mengguncang pasar saham global, khususnya saham-saham terkait AI, bahkan tanpa perlu blokade sungguhan.
Bagi investor, Dalio menilai perubahan ini membawa implikasi negatif bagi dominasi aset-aset AS. Ia mengatakan ekonomi eksternal Tiongkok terus mencatat surplus ekspor besar dan menumpuk aset keuangan dengan cepat, sementara peran renminbi dalam perdagangan global terus tumbuh.
Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan Tiongkok disebut makin enggan menumpuk aset AS yang sewaktu-waktu bisa terkena sanksi.
Atas dasar itu, Dalio menilai lanskap global kini tengah bergeser dari tatanan multilateral berbasis aturan pimpinan AS menuju sistem bipolar yang lebih hierarkis dan sangat ditentukan oleh keseimbangan kekuatan (balance of power).
Dalam pandangannya, Tiongkok tidak harus menggunakan kekuatannya secara terbuka. Cukup dengan memiliki dan menunjukkan taji tersebut guna memaksa pihak lain menyesuaikan diri, Beijing sudah mampu mengamankan keuntungan strategis yang masif. (ARF)