China tambah ekspor BBM hingga 800.000 ton pada Juli 2026

Jumat, 26 Juni 2026

image

BEIJING - China meningkatkan volume bahan bakar yang diizinkan untuk diekspor oleh kilang-kilang milik negara, langkah yang berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan produk minyak olahan di Asia.

Menurut sumber perdagangan yang dikutip Reuters pada Kamis, otoritas China pekan ini bertemu dengan para eksekutif perusahaan kilang pelat merah dan menyampaikan bahwa mereka diperbolehkan mengekspor hingga 800.000 ton metrik produk minyak olahan pada Juli.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan estimasi volume ekspor sekitar 600.000 ton pada Juni. 

Seperti dikutip OILPRICE, selain itu, pemerintah China juga mencabut pembatasan tujuan ekspor bahan bakar yang sebelumnya diberlakukan.

Beberapa hari setelah konflik di Timur Tengah pecah dan memicu penutupan Selat Hormuz, pemerintah China sempat melarang hampir seluruh ekspor bahan bakar di tengah memburuknya krisis pasokan global.

Pengecualian hanya diberikan untuk sejumlah pengiriman ke beberapa negara di Asia Tenggara.

Saat itu, Beijing meminta perusahaan energi menghentikan kontrak ekspor baru dan berupaya membatalkan pengiriman yang telah dijadwalkan.

Langkah tersebut diambil ketika pasar bahan bakar global mengalami pengetatan akibat perang di Timur Tengah yang menghambat lalu lintas melalui salah satu jalur distribusi minyak dan bahan bakar terpenting di dunia.

Pada April, China mulai melonggarkan pembatasan ekspor setelah persediaan bahan bakar domestik meningkat tajam.

Meski kuota ekspor kembali dinaikkan, volume ekspor China masih jauh di bawah level sebelum pecahnya perang Iran. 

Berdasarkan estimasi Reuters, ekspor yang diizinkan pada Juli masih sekitar 40% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, kilang-kilang China terus memangkas tingkat operasinya hingga ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir. 

Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya harga minyak mentah, lemahnya konsumsi bahan bakar domestik, serta pembatasan ekspor yang masih berlaku.

Kilang independen atau teapot refiners bahkan menurunkan tingkat operasinya ke level terendah sejak 2017. 

Secara keseluruhan, tingkat operasi rata-rata kilang di China kini berada pada titik terendah dalam empat tahun terakhir, seiring anjloknya impor minyak mentah ke level terendah dalam delapan tahun. (DK)