Pengiriman minyak lewat Hormuz tertinggi sejak perang AS-Iran

Jumat, 26 Juni 2026

image

JAKARTA — Volume pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz meningkat pekan ini ke level tertinggi sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada Februari lalu.

Seperti dikutip Reuters, kenaikan terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata memungkinkan jalur pelayaran strategis tersebut kembali dibuka.

Data Kpler menunjukkan empat kapal tanker yang mengangkut sekitar 6 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz pada Kamis. Selain itu, dua kapal tanker lainnya membawa sekitar 4 juta barel minyak mentah Iran keluar dari kawasan tersebut.

Sehari sebelumnya, sebanyak 10,8 juta barel minyak dikirim melalui enam kapal tanker, mencerminkan meningkatnya aktivitas ekspor energi dari kawasan Teluk.

Peningkatan lalu lintas kapal didorong oleh tingginya permintaan, terutama dari Asia, setelah berbulan-bulan gangguan pasokan akibat konflik. 

Namun, volume pelayaran masih jauh di bawah rata-rata sebelum perang, ketika sekitar 125 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Menurut Kpler, pemulihan arus ekspor mencerminkan kemampuan negara-negara Teluk untuk menyesuaikan sistem ekspornya, meski kondisi perdagangan belum sepenuhnya kembali normal.

Pelaku pasar masih mempertanyakan ketahanan kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari yang saat ini berlaku. 

Meski risiko gangguan navigasi menurun, ketidakpastian geopolitik di kawasan tetap tinggi.

Lalu lintas kapal memang terus meningkat, tetapi sebagian besar kapal menghindari jalur tengah Selat Hormuz dan memilih berlayar di sisi perairan Oman.

Jalur utama yang melintasi wilayah Iran dan Oman dinilai masih berisiko akibat potensi ranjau laut serta faktor keamanan lainnya.

Kekhawatiran juga muncul setelah Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz hanya dapat dilakukan melalui rute yang disetujui Teheran. 

Iran memperingatkan akan mengambil tindakan terhadap kapal yang tidak mematuhi ketentuan tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kapal tanker dilaporkan diminta mengubah jalur pelayaran atau menunggu instruksi sebelum melintasi perairan Iran.

Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa menjalankan program evakuasi sukarela bagi kapal-kapal yang terjebak di kawasan Teluk akibat konflik. 

Sejak 23 Juni, sebanyak 57 kapal dengan sekitar 1.100 awak telah berhasil melintasi Selat Hormuz melalui koridor yang disepakati.

Meski aktivitas pelayaran mulai pulih, pasar energi global masih mencermati perkembangan situasi keamanan dan sikap Iran yang dinilai akan menentukan kelancaran arus minyak melalui salah satu jalur energi terpenting dunia tersebut. (DK)