Pemerintah akui kepercayaan investor belum pulih, meski ekonomi kuat

Jumat, 26 Juni 2026

image

JAKARTA — Pemerintah mengakui kepercayaan investor masih menjadi salah satu tantangan bagi perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global. 

Meski demikian, pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan berbagai indikator makroekonomi masih menunjukkan kinerja positif di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda.

"Fundamental ekonomi kita sebenarnya sangat kuat. Kalau sekarang ada permasalahan terkait trust atau kepercayaan investor, maka kita perlu bersama-sama menjelaskan kondisi yang sebenarnya dan membangun optimisme terhadap perekonomian Indonesia ke depan," ujar Susiwijono dalam Indonesia Financial Summit 2026 di Jakarta, Kamis (25/6).

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61%, sementara inflasi Mei 2026 berada di level 3,08% dan masih dalam rentang sasaran pemerintah.

Cadangan devisa juga tercatat mencapai US$144,9 miliar atau setara 5,6 bulan impor.

Di sisi lain, realisasi investasi pada triwulan I hampir menyentuh Rp500 triliun, didukung oleh perbaikan iklim usaha melalui deregulasi, penyederhanaan perizinan, dan penyelesaian berbagai hambatan investasi.

Pemerintah juga terus memperluas akses pasar ekspor melalui sejumlah perjanjian perdagangan strategis, termasuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA).

Selain mendorong investasi dan perdagangan, pemerintah memperkuat ketahanan ekonomi melalui hilirisasi industri, pengembangan ekonomi digital, penguatan sektor pangan dan energi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program vokasi dan magang.

Susiwijono juga menegaskan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) bertujuan memperkuat likuiditas valas domestik, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dan menambah cadangan devisa nasional.

Menurutnya, optimalisasi pengelolaan devisa ekspor menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global yang masih berlangsung. (DK)