Bank sentral global beri sinyal Hawkish, volatilitas pasar naik

Kamis, 11 Desember 2025

image

ORLANDO – Suku bunga global kini terlihat jauh kurang bersahabat dibanding beberapa minggu lalu, mengisyaratkan bahwa tahun 2026 bisa menjadi periode yang jauh lebih volatile dari ekspektasi investor.Pernyataan Gubernur Bank Sentral Australia Michele Bullock dan Anggota Dewan ECB Isabel Schnabel pekan ini yang memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya, menyoroti pergeseran hawkish di bank-bank sentral utama.Hawkish adalah istilah dalam kebijakan moneter yang menggambarkan sikap cenderung menaikkan suku bunga atau mengetatkan kebijakan untuk mengendalikan inflasi.Dilansir dari reuters.com, komentar Bullock mengejutkan pasar, sementara ucapan Schnabel lebih dapat diprediksi.Namun keduanya menegaskan bahwa kebijakan moneter tahun depan akan jauh lebih menantang, dengan potensi biaya pinjaman kembali meningkat.Benang merahnya adalah inflasi yang tetap tinggi di banyak negara maju, sementara pertumbuhan ekonomi masih relatif solid.Kini perhatian tertuju pada apakah Ketua The Fed Jerome Powell akan mengirim sinyal serupa pada Rabu melalui apa yang disebut “hawkish cut”, pemangkasan suku bunga disertai panduan kebijakan yang lebih ketat.Ekspektasi pasar menunjukkan hanya tiga bank sentral G10, The Fed, Bank of England, dan Norges Bank, yang diperkirakan memangkas suku bunga tahun depan.The Fed diproyeksi menurunkan 75 bps, sementara dua lainnya sekitar 50 bps.Sebaliknya, Bank of Canada dan RBA kini justru diperkirakan menaikkan suku bunga masing-masing sekitar 35 dan 50 bps, berbanding terbalik dengan proyeksi beberapa minggu lalu yang cenderung mengarah pada pemotongan.Perubahan arah ini terjadi setelah banyak bank sentral melakukan siklus pemangkasan tercepat dalam puluhan tahun meski tidak berada dalam resesi.Bagi The Fed, ini merupakan yang paling agresif sejak pertengahan 1980-an, sementara ECB belum pernah melonggarkan kebijakan sebesar ini tanpa kontraksi ekonomi.Sejarah menunjukkan bahwa pelonggaran cepat di luar masa resesi sering memicu percepatan aktivitas ekonomi, terutama jika didukung stimulus fiskal, yang pada akhirnya membuka jalan bagi kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.Dengan pasar yang kini menilai ulang arah kebijakan global, aset seperti obligasi dan mata uang menjadi rentan, terutama karena volatilitas keduanya saat ini sangat rendah.Indeks MOVE, pengukur volatilitas implisit obligasi AS, pekan lalu jatuh ke level terendah empat tahun.Sementara indeks volatilitas enam mata uang utama terhadap dolar AS berada di titik terendah sejak Juli tahun lalu.Salah satu dampaknya adalah tekanan jual baru pada yen Jepang. Pasar sebelumnya memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga pada 2026, namun tanpa banyak bank G10 lain yang melakukan hal sama.Perubahan sikap hawkish global bisa membuat yen kembali melemah ke level sekitar 162 per dolar, mendekati titik yang dapat memicu intervensi pemerintah.Mata uang negara berkembang juga bisa terpukul, karena kenaikan suku bunga global biasanya mendorong investor kembali ke aset negara maju yang lebih aman dan menawarkan imbal hasil lebih menarik.Di pasar obligasi, gejolak meningkat, dipimpin Jepang. Penjualan besar JGB telah mendorong lonjakan imbal hasil tenor panjang ke rekor baru.Australia, Jerman, dan Kanada juga mengalami kenaikan imbal hasil signifikan dalam beberapa minggu terakhir.Menjelang akhir tahun, pasar obligasi dan valuta berada dalam kondisi paradoks: investor gelisah, namun volatilitas tetap rendah. Siklus kenaikan suku bunga global tahun depan bisa segera mengubah keadaan tersebut. (DK)