Industri EV desak Uni Eropa tak longgarkan aturan bagi mobil bensin
Kamis, 11 Desember 2025

STOCKHOLM - Asosiasi industri mobil listrik di seluruh Eropa pada Rabu (10/12), meminta Komisi Eropa agar tetap berpegang pada target zero-emissions untuk mobil baru pada 2035. Mereka memperingatkan bahwa pelonggaran aturan untuk mobil konvensional, justru akan menghambat investasi dan membuat Eropa makin tertinggal dari China. Seperti dikutip dari reuters.com, komisi Eropa dijadwalkan merilis paket kebijakan otomotif pada 16 Desember 2025. Paket kebijakan ini berpotensi memberi kelonggaran pada target CO₂ dan memperlunak larangan penjualan mobil dengan mesin pembakaran mulai 2035. Langkah ini mendapat dukungan oleh produsen mobil Jerman dan Asosiasi Produsen Mobil Eropa. Dalam surat terbuka kepada Presiden Komisi Ursula von der Leyen, kelompok E-Mobility Europe dan ChargeUp Europe yang didukung hampir 200 perusahaan termasuk Polestar dan Volvo Cars, mendesak agar target zero-emissions tidak berubah. “Kami sangat khawatir dengan upaya-upaya untuk mengurangi ambisi kebijakan ini,” tulis mereka, merujuk pada tekanan besar dari industri otomotif. Mereka menegaskan jika regulator membuka ruang bagi teknologi transisi seperti hibrida plug-in atau bahan bakar netral CO₂, maka ketidakpastian akan bertambah dan menghambat transisi kendaraan listrik, sementara produsen China terus melaju dan menekan biaya. “Setiap penundaan di Eropa hanya memperbesar jarak dengan China,” tegas surat itu. Paket otomotif tersebut kini menjadi pembahasan intensif antara industri EV dan regulator. Surat dari berbagai pihak, baik industri maupun kelompok advokasi, membanjiri Brussel menjelang pengumuman resmi. (DK/KR)