Seoul buka perdagangan won 24 jam, volatilitas jadi sorotan

Jumat, 26 Juni 2026

image

JAKARTA - Korea Selatan resmi mengakhiri pembatasan perdagangan mata uang yang telah berlaku selama puluhan tahun dengan membuka pasar won selama 24 jam mulai 6 Juli.

Sejumlah bank mulai menguji sistem perdagangan baru pada Senin sebagai tahap akhir sebelum implementasi penuh.

Perubahan tersebut menandai pergeseran besar dalam kebijakan valuta asing Korea Selatan. Jika setelah krisis finansial Asia 1997 pemerintah memperketat akses terhadap won, kini Seoul justru membuka pasar lebih luas demi memenuhi standar aksesibilitas yang dipersyaratkan MSCI untuk naik status menjadi pasar maju.

Namun, liberalisasi itu membawa konsekuensi bagi pelaku pasar.

“Ketika saya pertama kali datang ke pasar, itu adalah permainan 9 banding 3,” kata Namkoong Taehun, dealer valuta asing Hana Bank yang telah berkarier selama 18 tahun, seperti dikutip Reuters.

“Anda dapat menghitung lembaga keuangan yang berpartisipasi dengan satu tangan.”

Menurut Namkoong, perkembangan pasar valuta asing Korea Selatan kini jauh berbeda dibandingkan saat ia memulai kariernya.

"Saat ini, pasar telah berkembang secara eksponensial," ujarnya.

"Saya melihat adanya peningkatan permintaan yang signifikan terhadap aset-aset dalam mata uang won, mengingat banyaknya lembaga keuangan yang menanyakannya. Kami khawatir beban kerja kami akan meningkat secara signifikan."

Di balik optimisme tersebut, tantangan terbesar datang dari potensi gejolak nilai tukar ketika pasar memasuki jam perdagangan dengan likuiditas yang lebih tipis.

Won saat ini masih bergerak di dekat level terlemah dalam 17 tahun terhadap dolar Amerika Serikat, sehingga lebih rentan mengalami fluktuasi tajam apabila terjadi arus transaksi besar.

Reli indeks KOSPI yang mencetak rekor tertinggi tahun ini justru turut menekan nilai tukar won. Kenaikan harga saham mendorong investor asing merealisasikan keuntungan, sementara investor domestik terus mengalihkan dana ke pasar saham Amerika Serikat.

Untuk menjaga stabilitas pasar, pemerintah memperkenalkan sejumlah fasilitas baru, termasuk sistem penyelesaian transaksi won di luar negeri, izin kepemilikan won bagi lembaga keuangan asing, serta kebijakan overdraft guna menjaga kelancaran likuiditas.

“Sebelumnya, lembaga keuangan asing hanya mampu mengkonversi uang,” kata seorang pejabat pemerintah yang menangani kebijakan valuta asing.

“Tetapi melalui sistem penyelesaian won di luar negeri, mereka akan dapat langsung memegang dan memanfaatkan won tersebut.”

 Perpanjangan jam perdagangan sebenarnya telah dimulai sejak dua tahun lalu ketika Korea Selatan memperluas sesi perdagangan hingga pukul 02.00 dini hari untuk mengakomodasi pasar London.

Head of FX Sales APAC State Street Hong Kong, Shen Li, mengatakan kebijakan tersebut telah meningkatkan aktivitas transaksi di luar jam perdagangan domestik.

"Sekitar 20% dari volume transaksi *spot* kini terjadi di luar jam pasar domestik (*offshore hours*), terkonsentrasi pada pagi hari waktu London," ujarnya.

"Perpanjangan menjadi 24 jam dapat semakin meningkatkan keseluruhan skema likuiditas ini."

Meski reformasi terus berjalan, MSCI pekan ini masih mempertahankan Korea Selatan dalam kelompok pasar berkembang. Penyedia indeks global tersebut menilai akses investor asing dan likuiditas pasar valuta asing belum memenuhi standar untuk masuk kategori pasar maju.

Di sisi lain, perbankan mulai memperkuat sumber daya manusia untuk mengawal perdagangan tanpa henti. Hana Bank menambah tiga dealer baru, Woori Bank memperbesar tim di Inggris menjadi empat orang, Shinhan Bank merekrut satu dealer tambahan di London, sementara KB Kookmin Bank telah menambah dua personel.

Dealer Hana Bank Shin Jae-min mengatakan lonjakan transaksi kini bisa muncul kapan saja, termasuk di luar jam kerja konvensional.

"Terkadang situasinya tiba-tiba menjadi sangat intens, seperti beberapa waktu lalu saat pesanan membanjir setelah SpaceX melantai di bursa," ujarnya.

"Menanggapi permintaan seperti itu berarti tidak ada waktu istirahat, bahkan di jam-jam yang sangat tidak lazim."(DH)