Carlos Ghosn: Hanya saya yang bisa selamatkan Nissan dari krisis
Sabtu, 27 Juni 2026
WASHINGTON - Mantan Chairman Nissan Carlos Ghosn mengatakan seruan dari sebagian pemegang saham agar dirinya kembali memimpin perusahaan mencerminkan kemarahan yang mendalam atas bertahun-tahun kegagalan rencana pemulihan.
Seperti dikutip Reuters, dia menuduh jajaran pimpinan produsen mobil tersebut telah menyia-nyiakan nilai perusahaan dan kehilangan arah sejak dirinya digulingkan pada 2018.
Dalam wawancara dengan Reuters, Ghosn mengatakan para investor "sudah muak" setelah tiga direktur utama gagal menghidupkan kembali Nissan.
Pada rapat umum pemegang saham tahunan Nissan, Selasa, CEO Ivan Espinosa menghadapi kemarahan pemegang saham serta usulan dari setidaknya satu investor untuk mengembalikan Ghosn yang kini berstatus buronan.
Namun, usulan tersebut gagal karena mayoritas pemegang saham tetap mendukung dewan direksi.
"Itu adalah reaksi yang sangat masuk akal," kata Ghosn. "Anda bisa merasakan kemarahan dan frustrasi para pemegang saham."
Ghosn memimpin Nissan selama hampir dua dekade dan kini tinggal di Lebanon setelah melarikan diri dari Jepang pada akhir 2019.
Saat itu ia sedang menunggu persidangan atas tuduhan pelanggaran keuangan yang dibantahnya.
Ghosn mengklaim dirinya menjadi korban konspirasi para eksekutif Nissan dan pejabat Jepang.
Ia menunjuk anjloknya harga saham Nissan, penurunan penjualan, penutupan pabrik, serta pemutusan hubungan kerja sebagai bukti kegagalan manajemen.
Ghosn sebelumnya dikenal luas sebagai sosok yang menyelamatkan Nissan dari ambang kebangkrutan setelah penyelamatan oleh Renault pada 1999.
Ia menjadi figur nasional di Jepang dan salah satu eksekutif paling terkenal di dunia, meski reputasinya kemudian tercoreng oleh berbagai tuduhan pelanggaran keuangan.
"Lihat saja faktanya, kondisinya sangat buruk," ujar Ghosn.
Ia menyebut harga saham Nissan telah merosot sekitar 80% sejak 2018, penjualan tahunan turun menjadi sekitar 3 juta kendaraan dari sebelumnya lebih dari 5 juta unit, serta posisi keuangan perusahaan yang terus melemah.
Menanggapi pertanyaan Reuters mengenai komentar Ghosn, Nissan mengatakan tidak memberikan tanggapan atas "pernyataan yang bersifat spekulatif".
Perusahaan menyatakan tengah mencatat kemajuan bertahap dalam rencana pemulihannya, berhasil membukukan laba operasional pada tahun fiskal terakhir, dan masih memiliki likuiditas yang kuat.
Sejumlah produsen mobil besar lain seperti Volkswagen dan Stellantis juga menghadapi tantangan dalam beberapa tahun terakhir akibat transisi menuju kendaraan listrik dan meningkatnya persaingan dari produsen mobil China berbiaya rendah.
Sejumlah analis dan orang dalam Nissan menilai Ghosn terlalu berfokus pada volume penjualan dibandingkan profitabilitas, sehingga Nissan bergantung pada strategi harga murah yang pada akhirnya merusak citra merek.
Sementara itu, Espinosa berupaya meningkatkan nilai perusahaan dengan menaikkan laba per kendaraan meski volume penjualan lebih rendah.
"Mereka hanya merindukan masa kejayaan Nissan," kata analis Macquarie James Hong mengenai usulan pemegang saham tersebut. Menurutnya, usulan itu belum tentu masuk akal secara ekonomi maupun realistis karena industri otomotif telah banyak berubah sejak era Ghosn.
Ghosn menilai Nissan kini terjebak dalam pengambilan keputusan yang lambat dan strategi yang terlalu defensif, sehingga memilih mundur dari berbagai pasar alih-alih menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Saat ditanya apakah ia bersedia kembali menjadi penasihat Nissan jika situasi berubah, Ghosn menjawab bahwa sekadar memberikan nasihat tidak akan cukup.
"Satu-satunya pekerjaan untuk menyelamatkan perusahaan adalah menjadi CEO," katanya.
"Harus seseorang yang benar-benar menjadi pengambil keputusan. Nissan sedang dalam keadaan darurat dan membutuhkan keputusan-keputusan yang sulit."
"Jika ada satu orang atau satu profil yang bisa mewujudkannya saat ini, itu adalah saya," ujar Ghosn.
"Saya tidak mengatakan ini karena arogan. Saya mengatakannya berdasarkan fakta. Saya pernah melakukannya sekali. Saya mengenal perusahaan ini dari segala sisi."
Ghosn memperingatkan bahwa jika Nissan tidak mengubah arah, perusahaan berisiko menjadi afiliasi kecil dari perusahaan yang lebih besar, kemungkinan besar perusahaan asal China.
Ia membandingkan kondisi Nissan saat ini dengan krisis sebelum Renault menyelamatkannya pada 1999, "namun dengan harapan yang lebih kecil."
Ghosn, yang memiliki kewarganegaraan Prancis, Lebanon, dan Brasil, juga mengaku menyesal menerima masa jabatan tambahan untuk memimpin Renault pada 2018.
Menurutnya, ia seharusnya pensiun setelah mencapai target yang ditetapkan dalam aliansi tersebut.
"Itu adalah kesalahan besar," kata Ghosn. (DK)