Yen menguat jelang akhir pekan, risiko intervensi jadi sorotan
Jumat, 26 Juni 2026
SINGAPURA - Yen menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (26/6) di tengah meningkatnya spekulasi pasar bahwa otoritas Jepang dapat kembali melakukan intervensi jika pelemahan mata uangnya berlanjut. Di sisi lain, dolar melemah setelah data ekonomi AS dan pernyataan pejabat Federal Reserve meredam ekspektasi kenaikan suku bunga.
Dikutip dari Reuters, yen menguat 0,1% ke level 161,62 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh 161,95, level terlemah dalam dua tahun. Jika menembus level 161,96, yen akan berada di posisi terlemah sejak 1986.
Meski demikian, nilai tukar yen masih tertahan di atas level 160 per dolar AS. Level tersebut dinilai pelaku pasar sebagai batas psikologis kritis bagi pemerintah Jepang untuk meluncurkan intervensi di pasar valuta asing (valas).
Analis ING mengatakan kenaikan harga minyak mulai mendorong tekanan inflasi lanjutan, sementara pejabat Bank of Japan (BOJ) menunjukkan sikap yang semakin hawkish. Mereka memperkirakan inflasi inti akan terus meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Data inflasi inti Tokyo yang dirilis pada Jumat (26/6) turut memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan mempercepat kenaikan suku bunga. Sejumlah bank bahkan memajukan proyeksi kenaikan suku bunga BOJ dari Desember menjadi Oktober tahun ini.
Analis ING mengatakan kenaikan harga minyak mulai memicu tekanan inflasi lanjutan, sementara pejabat BOJ juga menunjukkan kecenderungan yang lebih hawkish. Menurut mereka, inflasi inti diperkirakan terus meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama turun 0,1% menjadi 101,38, menandai pelemahan selama dua hari berturut-turut.
Euro diperdagangkan stabil di level US$1,1373, sedangkan poundsterling naik 0,1% menjadi US$1,3197. Dolar Australia turun 0,3% ke US$0,6892 dan dolar Selandia Baru melemah 0,2% menjadi US$0,5641.
Serangkaian data ekonomi AS yang dirilis pada Kamis (25/6), termasuk inflasi, membuat pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini.
Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) naik 4,1% secara tahunan pada Mei, tertinggi sejak April 2023. Meski demikian, angka tersebut sesuai dengan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters.
Di sisi lain, belanja konsumen AS tetap tumbuh 0,7% pada Mei 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada April dan melampaui proyeksi pasar sebesar 0,6%.
Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee, mengatakan terdapat sedikit harapan bahwa inflasi sektor jasa mulai mereda, meskipun tekanan harga secara keseluruhan masih tinggi. Senada, Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyebut tekanan inflasi diperkirakan akan berangsur menurun tahun ini, tetapi masih berada di atas target.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, pasar kini memperkirakan peluang sebesar 69% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan yang berakhir 29 Juli 2026, naik dari 65,8% sehari sebelumnya.
Di pasar kripto, bitcoin naik 0,7% ke US$59.802,13 setelah sempat menyentuh level terendah sejak September 2024 pada awal pekan ini. Sementara itu, ether turun 0,4% ke US$1.552,21 dan masih berada di level terendah sejak awal bulan. (ARF)