China prioritaskan ketahanan energi, batu bara tetap jadi andalan

Jumat, 26 Juni 2026

image

JAKARTA - China kembali menegaskan batu bara tetap menjadi pilar utama ketahanan energinya dalam Rencana Pembangunan Energi Lima Tahun terbaru. Meski terus memperluas penggunaan energi bersih, Beijing masih membuka ruang bagi peningkatan konsumsi batu bara guna menjamin pasokan listrik dan menopang stabilitas ekonomi.

Kepala National Energy Administration (NEA), Wang Hongzhi, mengatakan keamanan energi akan tetap menjadi prioritas utama pemerintah, bahkan di tengah komitmen jangka panjang menuju netralitas karbon.

"Kami akan selalu memprioritaskan ketahanan energi," kata Wang Hongzhi dalam paparan rencana energi lima tahun terbaru, Jumat, seperti dikutip Bloomberg.

Menurutnya, strategi tersebut terbukti mampu menjaga stabilitas pasokan energi China saat perang Iran memicu guncangan di pasar energi global.

Dalam cetak biru terbaru, pemerintah menegaskan akan memperkuat peran batu bara sebagai penyangga sistem energi nasional.

Langkah itu ditempuh dengan meningkatkan kapasitas produksi di lima kawasan tambang utama, sekaligus membuka peluang penambahan kapasitas di wilayah China bagian tengah dan timur.

Pemerintah juga memberikan ruang ekspansi bagi industri hilirisasi batu bara menjadi bahan kimia (coal-to-chemicals), seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku domestik.

Kebijakan tersebut melanjutkan tren peningkatan investasi pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sejak krisis listrik pada 2021–2022. Tahun lalu, China menambah kapasitas pembangkit listrik termal sebesar 95 gigawatt (GW), tertinggi setidaknya sejak 2008. Sementara itu, pengajuan izin pembangunan PLTU pada kuartal I-2026 tercatat melampaui laju rekor tahun sebelumnya.

Pertumbuhan industri kimia berbasis batu bara juga semakin pesat. Selain didorong upaya diversifikasi permintaan dari sektor pertambangan, kenaikan harga bahan baku alternatif seperti nafta dan liquefied petroleum gas (LPG) akibat perang Iran turut meningkatkan daya saing batu bara sebagai bahan baku industri.

Target emisi lebih longgar

Di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan target transisi energi, meski dengan pendekatan yang lebih bertahap.

Rencana lima tahun terbaru kembali menegaskan target agar konsumsi batu bara mencapai puncaknya dalam periode tersebut. Target ini dinilai lebih longgar dibandingkan komitmen sebelumnya yang disampaikan Presiden Xi Jinping untuk mulai menurunkan konsumsi batu bara.

Dokumen tersebut juga belum menetapkan jadwal implementasi penuh sistem dual carbon control, yang akan menjadi dasar pembatasan total emisi karbon nasional.

Analis menilai target baru Beijing masih memberikan ruang cukup besar bagi penggunaan energi fosil.

Pusat riset Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) memperkirakan target bauran listrik bersih sebesar 50% masih memungkinkan pembangkitan listrik berbasis bahan bakar fosil meningkat sekitar 10% selama periode rencana tersebut.

“Target-target utama tersebut tergolong konservatif dan sebaiknya dipandang lebih sebagai batas minimal kebijakan daripada sebagai ambisi baru yang besar,” kata analis China di CREA, Qi Qin.

Perkuat penyimpanan energi

Meski mempertahankan batu bara sebagai sumber energi strategis, pemerintah menegaskan penggunaannya akan difokuskan sebagai pembangkit yang fleksibel untuk menopang energi terbarukan, bukan lagi sebagai sumber listrik utama.

"Pengembangan batu bara sebaiknya dibatasi hingga tingkat terendah yang diperlukan," kata Wakil Direktur NEA Wan Jinsong.

Pemerintah juga akan mempercepat pembangunan teknologi penyimpanan energi guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

"Tiongkok akan secara gencar mengembangkan penyimpanan energi baru serta kemampuan fleksibilitas lainnya, dan meminimalkan ketergantungan pada bahan bakar fosil semaksimal mungkin," ujar Wan.

Dalam rencana tersebut, kapasitas pembangkit listrik tenaga air berpompa (pumped hydro) ditargetkan meningkat menjadi sekitar 160 GW, dari 66 GW pada akhir 2025. Sementara kapasitas penyimpanan energi berbasis baterai ditargetkan naik menjadi 300 GW dari 136 GW saat ini.

Managing Director Agora Energy China, Kevin Tu, menilai fleksibilitas sistem kini menjadi fokus utama transformasi energi China.

"Fleksibilitas beralih dari fungsi pendukung menjadi infrastruktur energi inti," katanya.(DH)