Vance dan Rubio beda pendapat soal Iran-Israel, kabinet Trump retak?
Jumat, 26 Juni 2026
MANAMA - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berupaya menampilkan sikap yang solid terkait perang Iran. Namun, pernyataan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dalam sepekan terakhir menunjukkan perbedaan penekanan, terutama terkait Israel.
Dikutip dari Reuters, Vance pekan lalu mengkritik pihak-pihak di Israel yang menentang kesepakatan awal antara AS dan Iran. Berbicara di Gedung Putih, ia juga menilai serangan Israel terhadap infrastruktur sipil di Beirut untuk melemahkan Hizbullah justru berpotensi menghambat upaya perdamaian yang dipimpin AS.
Sementara itu, Rubio yang melakukan kunjungan ke kawasan Teluk membela operasi militer Israel di Lebanon. Ia berulang kali menyebut tindakan tersebut sebagai respons yang sah atas serangan Hizbullah terhadap Israel.
Saat dimintai tanggapan mengenai kritik Vance, Rubio tidak menjawab secara langsung dan justru menyinggung serangan Hizbullah terhadap sebuah pos pemeriksaan Israel pada awal pekan ini.
Perbedaan tersebut memunculkan kesan adanya sudut pandang yang tidak sepenuhnya sejalan di dalam pemerintahan Trump, meski Gedung Putih terus menegaskan persatuan. Situasi itu juga dinilai mencerminkan dinamika internal Partai Republik, dengan Rubio dan Vance sama-sama dipandang sebagai calon kuat dalam pemilihan presiden AS 2028.
Pada Selasa (24/6), Rubio mengatakan dirinya tidak akan meminta negara-negara Teluk membiayai rekonstruksi Iran. Menurutnya, pembahasan tersebut masih terlalu dini.
Dalam pertemuan dengan para pemimpin Gulf Cooperation Council (GCC) di Bahrain pada Kamis (25/6), ia kembali menegaskan bahwa setiap kesepakatan dengan Iran harus tetap melindungi kepentingan keamanan dan ekonomi AS beserta sekutunya.
"Kami menginginkan kesepakatan, tetapi bukan kesepakatan dengan mengorbankan kepentingan kami," ujar Rubio.
Gedung Putih membantah adanya perbedaan pandangan antara kedua pejabat tersebut. Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan seluruh pemerintahan berada dalam satu barisan di bawah kepemimpinan Presiden Trump.
"Hanya ada satu kubu, yaitu kubu Presiden Trump. Seluruh pemerintahan mendukung penuh upaya Presiden memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir," kata Kelly.
Senada, juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott menyebut narasi mengenai perpecahan kebijakan luar negeri antara Rubio dan Vance sebagai isu yang "usang dan tidak benar".
Menurutnya, seluruh anggota pemerintahan mendukung penuh kebijakan Presiden Trump.
Juru bicara Departemen Luar Negeri lainnya juga membantah adanya perbedaan sikap terkait Lebanon. Ia menegaskan tujuan pemerintahan AS tetap sama, yakni memulihkan kedaulatan pemerintah Lebanon atas seluruh wilayahnya.
Meski demikian, sejumlah analis menilai perbedaan pandangan keduanya nyata. Peneliti senior American Enterprise Institute Michael Rubin mengatakan Rubio dan Vance mewakili dua arus pemikiran yang berbeda dalam Partai Republik.
Sebelum menjabat, Vance dikenal kerap mengkritik keterlibatan AS dalam perang di luar negeri karena dianggap memboroskan anggaran dan mengorbankan nyawa. Sebaliknya, Rubio membangun reputasi sebagai politikus yang mendorong pendekatan lebih keras terhadap Iran, Rusia, dan Kuba selama menjadi senator.
Keduanya dipandang sebagai calon penerus Trump sekaligus representasi dari dua kelompok besar di Partai Republik, yakni kubu yang mendukung intervensi luar negeri dan kubu yang menilai banyak perang dalam beberapa dekade terakhir terlalu mahal serta tidak perlu.
Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang berakhir pada Senin (22/6) menunjukkan hanya 52% pemilih Partai Republik yang meyakini konflik saat ini memperkuat posisi AS. Hasil itu mencerminkan masih adanya perbedaan pandangan di internal partai.
Meski memiliki latar belakang berbeda, Rubio dan Vance tetap mendukung seluruh kebijakan utama Trump di bidang luar negeri, termasuk penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro, serangan terhadap Iran pada Februari, serta langkah pemerintahan untuk melanjutkan proses perdamaian.
Keduanya juga menggunakan pesan yang serupa dalam beberapa pekan terakhir, yakni bahwa AS akan menilai Iran berdasarkan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataannya, selama proses negosiasi berlangsung.
Saat ditanya apakah pandangannya mengenai Iran berbeda dengan Vance, Rubio menegaskan seluruh pejabat pemerintahan mengikuti arahan Presiden Trump.
"Semua orang di sini berada dalam satu barisan di belakang presiden," ujarnya. (ARF)