Bitcoin jatuh di bawah US$60.000, saham Strategy tertekan

Kamis, 25 Juni 2026

image

JAKARTA - Harga bitcoin kembali merosot hingga sempat menyentuh harga di bawah US$60.000, memicu tekanan di pasar kripto sekaligus menyeret saham perusahaan pemegang bitcoin terbesar, Strategy.

Dikutip dari Yahoo Finance, harga bitcoin sempat turun ke kisaran US$58.000 pada Kamis (25/6), harga terendah sejak 2024, sebelum kembali naik ke atas US$59.000. Posisi tersebut membuat harga bitcoin telah terkoreksi lebih dari 50% dibandingkan rekor tertingginya pada Oktober lalu yang mencapai US$126.000.

Pelemahan bitcoin turut membebani pasar aset digital secara keseluruhan. Indeks Crypto Fear and Greed dari CoinMarketCap kini berada di level extreme fear, yang mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor. Saham dari sejumlah perusahaan kripto seperti Coinbase dan Circle juga mengalami tekanan sepanjang bulan ini.

Saham Strategy (MSTR), perusahaan yang dikenal sebagai pemegang bitcoin korporasi terbesar, kini diperdagangkan di bawah US$90 untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir. Sementara itu, saham preferen Strategy bertajuk Stretch (STRC) sempat menyentuh rekor terendah di US$74, sekitar 25% di bawah nilai nominalnya sebesar US$100.

Strategy selama ini berupaya menjaga harga STRC tetap mendekati US$100 dengan menyesuaikan tingkat dividen yang dibayarkan kepada investor.

Kepala Strategi Aset Digital Fundstrat, Sean Farrell, mengatakan dirinya masih enggan membeli bitcoin saat harga turun. Menurutnya, pelemahan bitcoin kali ini pada awalnya tidak diikuti aset kripto lain sehingga mengindikasikan tekanan pasar yang lebih mendalam, bukan sekadar aksi jual sementara yang biasanya menjadi peluang beli.

Farrell juga menilai penurunan harga bitcoin kini mulai menekan seluruh produk investasi Strategy. Dengan harga saham yang telah merosot hampir 80% dalam 12 bulan terakhir, STRC terus melemah dan membuat sebagian investor mulai mempertanyakan keberlanjutan pembayaran dividen saham preferen tersebut.

Strategy sebelumnya menyatakan dapat menaikkan tingkat dividen, yang saat ini sebesar 11,5%, untuk menarik minat investor sehingga harga STRC kembali mendekati nilai nominal. Perusahaan juga mengklaim memiliki cadangan kas yang cukup untuk mendanai pembayaran dividen tersebut.

Meski demikian, sejumlah investor mulai mempertanyakan langkah yang akan diambil perusahaan jika harga saham terus melemah. Pendiri Castle Island Ventures, Nic Carter, menilai investor obligasi berimbal hasil tinggi kemungkinan baru akan tertarik membeli STRC jika menawarkan imbal hasil sekitar 15%-20%, jauh di atas tingkat saat ini.

Hingga saat ini, Strategy tidak memberikan tanggapan atas pelemahan saham STRC. Dalam dokumen yang menyatakan pasal mengenai risiko, perusahaan menegaskan tidak memiliki kewajiban untuk mempertahankan ataupun menaikkan tingkat dividen guna menjaga harga STRC di sekitar nilai nominal US$100 per saham. (ARF)