Saudi Aramco kembali ekspor dari Ras Tanura, harga minyak tertekan

Jumat, 26 Juni 2026

image

JAKARTA - Saudi Aramco kembali memuat minyak mentah di terminal Ras Tanura pada Jumat (26/6), mengakhiri penghentian aktivitas yang berlangsung hampir empat bulan.

Seperti dikutip Reuters, data pelayaran menunjukkan dua kapal tanker raksasa Very Large Crude Carrier (VLCC) milik Bahri, perusahaan pelayaran nasional Arab Saudi, tengah memuat minyak di Ras Tanura. Satu kapal tanker lainnya juga terlihat menunggu giliran berlabuh. Setiap VLCC memiliki kapasitas angkut sekitar 2 juta barel minyak mentah.

Aramco menjadi salah satu produsen minyak Teluk terakhir yang kembali mengekspor minyak dari kawasan Teluk Persia setelah selama konflik mengalihkan pengiriman melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Meski aktivitas ekspor mulai pulih, risiko keamanan di Selat Hormuz belum sepenuhnya mereda. Sebuah kapal milik Evergreen Marine asal Taiwan dilaporkan terkena benda tak dikenal saat melintas di selat tersebut pada Kamis (25/6).

Insiden itu mendorong United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz. Dua pejabat Amerika Serikat kepada Reuters menyebut Iran melepaskan tembakan ke arah kapal tersebut, sementara otoritas pelayaran Iran menyatakan kapal yang tidak mengikuti jalur pelayaran yang telah ditetapkan tidak akan dijamin keamanannya.

Ekspor Saudi Mulai Pulih

Sebelum konflik pecah, Terminal Ras Tanura mengekspor lebih dari 5 juta barel minyak per hari dan menjadi pusat distribusi utama minyak mentah Arab Saudi. Kilang domestik berkapasitas 550 ribu barel per hari yang berada di kawasan tersebut juga sempat dihentikan sebagai langkah antisipasi selama perang berlangsung.

Data LSEG menunjukkan, Aramco terakhir mengirim kargo dari Ras Tanura menuju China pada 8 Maret.

Setelah Iran memblokade Selat Hormuz selama konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, perusahaan mengalihkan ekspor melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Gangguan tersebut menyebabkan ekspor minyak Arab Saudi turun menjadi sekitar 4 juta barel per hari dalam tiga bulan terakhir, dari lebih dari 7 juta barel per hari pada Februari.

Membaiknya arus ekspor dari kawasan Teluk mulai meningkatkan pasokan minyak dunia. Pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz pada pekan ini tercatat mencapai level tertinggi sejak konflik dimulai.

Selain Arab Saudi, Irak, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab juga mulai meningkatkan penawaran ekspor minyak. Iran turut mempercepat pengiriman minyak setelah Amerika Serikat memberikan pelonggaran sementara terhadap sanksi. Data pelayaran menunjukkan dua VLCC kosong, Natsumi dan Halti, telah memasuki Teluk Persia untuk memuat minyak Iran.

Bertambahnya pasokan membuat harga minyak dunia kembali melemah lebih dari US$1 per barel pada perdagangan Jumat setelah sebelumnya sempat menguat akibat laporan serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz.

Direktur Riset Timur Tengah dan Afrika Utara Rystad Energy, Aditya Saraswat, menilai kondisi pasokan energi kawasan terus membaik.

"Dua juta barel per hari kembali beroperasi dalam waktu tiga minggu, dan pemulihan tersebut tersebar di seluruh wilayah." katanya.

Rystad Energy, memperkirakan produksi minyak yang sebelumnya terhenti di kawasan Teluk kini turun menjadi sekitar 9,6 juta barel per hari pada pertengahan Juni, dibandingkan 11,7 juta barel per hari tiga pekan sebelumnya. (DH)