Putin tolak proposal Kyiv dan janji tuntaskan operasi militer Rusia
Senin, 29 Juni 2026
JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan Moskow tidak akan menghentikan operasi militernya di Ukraina meski Kyiv kembali mengajukan usulan pembatasan serangan jarak jauh sebagai langkah awal menuju perundingan damai.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Rusia, Putin mengatakan prioritas negaranya tetap menguasai seluruh wilayah yang diklaim Rusia sebagai bagian dari Donbas dan Novorossiya. Menurutnya, proposal Ukraina hanya bertujuan mengurangi tekanan terhadap pasukan Kyiv yang saat ini menghadapi situasi sulit di garis depan.
"Jelas mengapa usulan ini diajukan, karena serangan balasan kami jauh ke dalam wilayah Ukraina jauh lebih kuat, memiliki dampak lebih besar, dan terus terang lebih menghancurkan," kata Putin, seperti dikutip Reuters.
Ia menilai penghentian serangan jarak jauh justru akan menguntungkan Ukraina tanpa mengubah posisi Rusia di medan perang.
"Mengingat kekurangan personel yang sangat parah, Angkatan Bersenjata Ukraina tampaknya meyakini bahwa hal ini bisa menjadi penyelamat mereka. Namun, menyelamatkan rezim Kyiv bukanlah bagian dari rencana kami."
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengirimkan surat terbuka kepada Putin yang berisi ajakan untuk menggelar pertemuan langsung guna membahas penyelesaian konflik. Namun, Kremlin kembali menolak usulan tersebut.
Putin menegaskan serangan drone yang dilancarkan Ukraina ke wilayah Rusia tidak akan mengalihkan fokus militernya dari target utama operasi.
Menurutnya, serangan tersebut hanya bertujuan mengganggu konsentrasi pasukan Rusia yang tengah berupaya merebut seluruh wilayah Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson.
Tugas pertama adalah meningkatkan produksi sistem pertahanan udara yang paling dibutuhkan secara cepat dan signifikan.
Selain meningkatkan produksi sistem pertahanan udara, Putin memastikan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia tidak memengaruhi jalannya operasi militer.
"Segala serangan, di mana pun dampaknya mengenai infrastruktur kita, sama sekali tidak memengaruhi situasi di garis depan, di garis kontak pertempuran," ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah Rusia mengakui serangan drone Ukraina sempat memicu gangguan distribusi bahan bakar di sejumlah wilayah. Meski demikian, Kremlin menyatakan pasokan energi masih dapat dikendalikan.
Di sisi diplomasi, Putin mengatakan Rusia masih membuka peluang melanjutkan pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat setelah ketegangan di Timur Tengah mereda. Ia memperkirakan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner akan kembali mengunjungi Moskow untuk melanjutkan pembahasan mengenai penyelesaian konflik Ukraina.
Putin juga mengungkapkan bahwa dalam pembicaraannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Alaska tahun lalu tidak ada kesepakatan resmi yang ditandatangani, meski kedua pihak sempat membahas sejumlah opsi penyelesaian perang.
“Tidak ada yang menandatangani apa pun, namun kami membahas sejumlah kemungkinan untuk mengakhiri konflik di Ukraina.”
Ia menambahkan usulan dari pihak Amerika Serikat mencakup sejumlah kompromi yang sempat dibahas selama pertemuan tersebut.
Selain itu, Putin membuka peluang keterlibatan Presiden Belarus Alexander Lukashenko dalam proses perundingan damai.
Namun, ia tidak menanggapi tuduhan Ukraina yang menyebut Rusia berupaya menyeret Belarus lebih jauh ke dalam konflik bersenjata yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.(DH)