Harga bitcoin terus turun, struktur modal Strategy tertekan
Senin, 29 Juni 2026
JAKARTA - Strategi agresif Michael Saylor, mengakumulasi bitcoin melalui Strategy Inc. (dahulu MicroStrategy) mulai menghadapi ujian berat setelah harga aset kripto tersebut terkoreksi tajam. Model bisnis yang sebelumnya dipuji saat pasar bullish kini memunculkan kekhawatiran baru seiring meningkatnya tekanan terhadap struktur permodalan perusahaan.
Seperti dikutip Finance.yahoo, ketika harga bitcoin sempat menembus lebih dari US$126.000 pada Oktober tahun lalu, pendekatan Strategy yang menghimpun dana melalui penerbitan saham, obligasi konversi, dan saham preferen untuk membeli bitcoin dianggap mampu menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi bagi pemegang saham.
Namun, kondisi berubah drastis setelah harga bitcoin merosot ke kisaran US$60.000. Penurunan tersebut ikut menyeret saham Strategy yang kini telah kehilangan sekitar 82% dari posisi puncaknya.
Tekanan tidak hanya tercermin pada harga saham. Sejumlah analis mulai menyoroti kondisi neraca perusahaan, khususnya indikator enterprise mNAV, yang untuk pertama kalinya turun di bawah level 1,0.
Berbeda dengan market mNAV yang hanya membandingkan kapitalisasi pasar dengan nilai kepemilikan bitcoin, enterprise mNAV turut memperhitungkan utang dan saham preferen sebagai bagian dari struktur modal perusahaan. Turunnya rasio tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya beban ekonomi yang harus ditanggung pemegang saham.
Kondisi itu juga dinilai dapat membatasi ruang Strategy untuk kembali menghimpun pendanaan baru. Penerbitan saham tambahan berpotensi memicu dilusi yang lebih besar, sementara akses terhadap pembiayaan utang diperkirakan semakin sulit apabila tingkat leverage terus meningkat.
Di sisi lain, perubahan sikap Michael Saylor terhadap kepemilikan bitcoin turut menjadi perhatian pasar.
Selama bertahun-tahun, pendiri Strategy tersebut berulang kali menegaskan perusahaan tidak akan pernah menjual bitcoin. Namun belakangan Strategy diketahui telah melepas sebagian kepemilikannya, sementara Saylor juga mengakui penjualan bitcoin dapat dilakukan apabila kondisi mengharuskannya.
Perubahan tersebut dipandang sebagai pengakuan bahwa strategi investasi berbasis akumulasi bitcoin tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan pasar.
Sejumlah lembaga riset bahkan masih memperkirakan bitcoin berpotensi melanjutkan koreksi menuju kisaran US$50.000. Beberapa proyeksi yang lebih pesimistis memperkirakan harga dapat turun hingga US$20.000 apabila tekanan jual meningkat.
Apabila skenario tersebut terjadi, Strategy diperkirakan memiliki pilihan pendanaan yang semakin terbatas. Salah satu opsi yang dinilai paling realistis adalah menjual sebagian kepemilikan bitcoin untuk memenuhi kewajiban keuangan atau memperkuat neraca perusahaan.
Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana strategi yang sangat bergantung pada kenaikan harga aset digital menjadi jauh lebih berisiko ketika pasar memasuki tren bearish.
Investor legendaris Warren Buffett sebelumnya pernah mengingatkan bahwa keberhasilan saat pasar naik belum tentu mencerminkan kualitas strategi investasi.
"Di pasar (bullish), semua orang adalah jenius."
Buffett juga menambahkan bahwa risiko sesungguhnya baru terlihat ketika kondisi pasar berubah.
"Baru saat air surutlah Anda mengetahui siapa yang selama ini berenang tanpa busana." (DH)