Bank sentral dunia kurangi ketergantungan dolar, terus borong emas
Senin, 29 Juni 2026
JAKARTA - Minat bank sentral dan sovereign wealth fund terhadap emas diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya kekhawatiran terhadap prospek dolar Amerika Serikat sebagai mata uang cadangan global.
Seperti dikutip investinglive, survei terbaru Invesco menunjukkan sepertiga institusi investasi negara berencana menambah kepemilikan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset.
Survei yang melibatkan 90 sovereign wealth fund dan 54 bank sentral dengan total aset kelolaan sekitar US$29 triliun itu mengungkap perubahan besar dalam strategi pengelolaan cadangan devisa.
Sebanyak 61% bank sentral yang menjadi responden menilai lonjakan utang AS berpotensi menggerus posisi dolar sebagai mata uang cadangan dunia dalam jangka panjang. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan hanya 20% pada 2024.
Selain itu, 29% responden memperkirakan peran dolar sebagai mata uang cadangan global akan melemah dalam lima tahun ke depan, meningkat dari 12% pada survei 2022.
Sejalan dengan perubahan pandangan tersebut, sekitar sepertiga responden menyatakan akan meningkatkan alokasi investasi pada emas. Bagi investor institusional, logam mulia dinilai semakin menarik karena mampu berfungsi sebagai aset lindung nilai ketika hubungan diversifikasi tradisional antara obligasi dan saham melemah akibat tekanan inflasi.
Invesco juga menemukan sejumlah lembaga mulai meninjau kembali ketergantungan terhadap infrastruktur keuangan Amerika Serikat. Beberapa institusi bahkan telah mengurangi penggunaan kustodian, mitra transaksi, maupun sistem kliring berbasis AS sebagai langkah mitigasi risiko geopolitik.
Salah satu bank sentral di Eropa disebut telah memindahkan layanan kustodiannya dari Amerika Serikat, sementara sebuah institusi di Amerika Latin mulai membangun hubungan dengan kustodian di luar AS sebagai langkah antisipasi apabila hubungan dengan Washington memburuk.
Dalam kondisi tersebut, emas dinilai menjadi aset yang semakin relevan karena tidak bergantung pada sistem keuangan berbasis dolar maupun risiko pihak lawan (counterparty risk).
Meski demikian, Invesco menilai pergeseran dari dolar menuju aset alternatif tidak akan berlangsung secara drastis. Dolar masih mencatat penguatan sekitar 3% sepanjang tahun ini, didukung permintaan aset aman selama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Survei juga menunjukkan belum ada mata uang yang mampu menggantikan posisi dolar dalam waktu dekat. Potensi yuan sebagai mata uang cadangan internasional masih bergantung pada reformasi struktural sektor keuangan China yang hingga kini belum terealisasi sepenuhnya.
Head of Research Invesco, Benjamin Jones, mengatakan ketahanan portofolio kini menjadi prioritas utama bagi investor institusional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurutnya, sovereign wealth fund dan bank sentral mulai menyusun ulang portofolio agar mampu bertahan menghadapi berbagai skenario, mulai dari inflasi tinggi hingga fragmentasi geopolitik.
Selain emas, sekitar 80% responden juga menilai investasi pada sektor keamanan energi dan infrastruktur transisi energi menjadi pilihan paling menarik untuk meningkatkan ketahanan portofolio. Porsi investasi sovereign wealth fund pada aset infrastruktur pun telah mencapai sekitar 9% dari total aset kelolaan pada 2026.(DH)