Analis beda pendapat soal penurunan harga bitcoin
Senin, 29 Juni 2026
JAKARTA - Perdebatan mengenai kapan harga bitcoin mencapai titik terendah (bottom) kembali mencuat. CEO JAN3 sekaligus pendukung adopsi bitcoin oleh negara, Samson Mow, meyakini fase penurunan harga telah berakhir, meski sejumlah analis masih memperkirakan aset kripto terbesar di dunia itu berpotensi turun lebih dalam.
Melalui unggahan di platform X, Mow menilai pola siklus empat tahunan Bitcoin tidak lagi sepenuhnya relevan setelah aset digital tersebut mencetak rekor harga tertinggi (all-time high/ATH) sebelum peristiwa halving pada April 2024.
“Menurut saya sangat menarik bagaimana sebagian orang begitu yakin bahwa titik terendah akan tercapai dalam empat bulan karena faktor ‘siklus’,” kata Mow, seperti dikutip Coindesk.
Menurutnya, pencapaian ATH sekitar 37 hari sebelum halving menjadi indikasi bahwa siklus bitcoin telah bergerak lebih cepat dibanding periode-periode sebelumnya.
“Namun, kita mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) 37 hari sebelum halving, jadi, meskipun Anda meyakini adanya siklus, logikanya adalah siklus tersebut telah mengalami percepatan. Titik terendah sudah tercapai,” ujar Mow.
Pandangan tersebut sejalan dengan sebagian pelaku pasar yang menilai masuknya dana institusi melalui ETF bitcoin spot di Amerika Serikat telah mengubah karakteristik siklus harga bitcoin.
Permintaan baru dari investor institusi dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan pasar terhadap pola historis pasca-halving.
Namun, tidak semua analis sepakat. Analis pasar CoinDesk, Omkar Godbole, menilai ruang penurunan bitcoin kemungkinan sudah semakin terbatas berdasarkan indikator teknikal Rata-rata pergerakan sederhana 50 minggu dan 100 minggu.
Pola bear cross yang mulai terbentuk justru beberapa kali bertepatan dengan terbentuknya titik terendah harga pada siklus sebelumnya.
Sementara itu, pendiri 10x Research, Markus Thielen, memperkirakan bitcoin masih berpeluang turun hingga sekitar US$55.000 sebelum membentuk dasar harga baru pada periode Agustus hingga Oktober.
Pandangan yang lebih konservatif disampaikan salah satu pendiri BitMEX, Arthur Hayes. Ia memperkirakan bitcoin dapat terkoreksi hingga US$40.000 dalam enam bulan mendatang sebelum kembali memasuki tren kenaikan.
Senada dengan itu, analis senior CoinDesk James Van Straten menilai bitcoin masih berpotensi melemah sekitar 15% berdasarkan indikator rata-rata bergerak 200 minggu.
“Di tengah pengujian bitcoin terhadap rata-rata pergerakan 200 minggunya, data (on-chain) mengindikasikan bahwa kisaran US$50.000 hingga US$54.000 dapat menjadi medan pertempuran penting berikutnya,” tulis Van Straten.
Ia menambahkan, pada setiap pasar bearish utama sejak 2011, harga bitcoin selalu sempat bergerak di bawah realized price sebelum akhirnya membentuk titik terendah siklus.
“Di saat bitcoin sedang menguji (moving average) 200 minggunya, data (on-chain) mengindikasikan bahwa kisaran harga US$50.000 hingga US$54.000 bisa menjadi medan pertempuran penting berikutnya,” katanya.(DH)