The Fed Richmond: Inflasi masih tinggi, suku bunga tetap ketat
Senin, 29 Juni 2026
JAKARTA - Presiden Federal Reserve Bank of Richmond, Tom Barkin, menilai inflasi di Amerika Serikat masih berada pada level yang terlalu tinggi.
Meski demikian, ia mulai melihat sejumlah sinyal yang menunjukkan tekanan harga berpotensi mereda dalam beberapa waktu ke depan.
"Angka-angka tersebut terlalu tinggi," ujar Barkin pada hari Minggu dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg di sela-sela Aspen Ideas Festival di Aspen, Colorado, seperti dikutip Bloomberg.
Data yang dirilis pekan lalu menunjukkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi acuan Federal Reserve, naik 4,1% secara tahunan hingga Mei. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 2023.
Menurut Barkin, lonjakan harga tidak hanya dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak akibat konflik Iran, tetapi juga telah meluas ke berbagai sektor ekonomi.
"Sulit untuk merasa yakin bahwa kita akan kembali ke tingkat 2% tanpa adanya pengaruh lebih lanjut dari suku bunga (fed funds), pasar tenaga kerja, atau faktor lain yang memicu disinflasi ke arah sebaliknya," tambah Barkin.
Ia mengakui penurunan harga bahan bakar di wilayah kerja Federal Reserve Richmond setelah tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi perkembangan yang menggembirakan.
Namun, Barkin menilai tekanan inflasi masih ditopang faktor lain, termasuk besarnya investasi untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Karena itu, ia menilai bank sentral masih memerlukan waktu untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi sebelum menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.
Pada pertemuan bulan ini, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan. Namun, semakin banyak pejabat bank sentral yang menilai kenaikan suku bunga masih mungkin diperlukan tahun ini apabila inflasi kembali meningkat.
Sejumlah pejabat The Fed juga mencermati kenaikan harga di sektor jasa yang dinilai lebih sulit turun dibandingkan sektor lainnya. Selain itu, inflasi yang telah bertahan di atas target 2% selama lebih dari lima tahun dikhawatirkan mulai memengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap harga di masa depan.
Barkin memperkirakan tekanan harga akibat tarif impor maupun lonjakan harga minyak akan terus mereda. Meski demikian, belanja konsumen Amerika Serikat masih tetap kuat sehingga dapat menghambat upaya bank sentral membawa inflasi kembali ke target.
Ia juga menyoroti perilaku dunia usaha yang masih mempertimbangkan inflasi saat menetapkan harga produk.
"Saat menetapkan harga, dunia usaha memperhitungkan tingkat inflasi saat ini, sehingga menurut saya ada sifat persistensi dalam inflasi," ujar Barkin. "Hal itu memang mengkhawatirkan saya, dan itulah salah satu alasan mengapa menurut saya mengambil sikap kebijakan yang agak restriktif merupakan langkah yang wajar."
Menurut Barkin, perusahaan kini menghadapi kenaikan biaya produksi, tetapi pada saat yang sama mulai melihat konsumen enggan menerima kenaikan harga yang terlalu tinggi. Kondisi tersebut membatasi kemampuan pelaku usaha meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
Dalam kunjungannya ke Virginia bagian barat, sejumlah pelaku usaha juga mengaku masih mempertimbangkan besaran kenaikan gaji karyawan tahun depan. Sebelumnya mereka memperkirakan kenaikan harga bahan bakar akan mendorong penyesuaian upah yang lebih besar, namun ekspektasi tersebut mulai berkurang seiring turunnya harga energi.(DH)