AS dan Iran sepakat berhenti saling serang, diplomasi kembali bergulir

Senin, 29 Juni 2026

image

JAKARTA - Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mencapai kesepakatan untuk menghentikan aksi saling serang di kawasan Teluk serta kembali membuka jalur diplomasi terkait sengketa di Selat Hormuz.

Mengutip laporan Axios, kedua negara dijadwalkan menggelar pertemuan di Qatar pada Selasa mendatang. Pertemuan itu disebut akan menjadi upaya lanjutan untuk menghidupkan kembali proses negosiasi setelah rangkaian serangan dan serangan balasan yang kembali memanas sejak pekan lalu.

Hingga kini, Reuters belum dapat mengonfirmasi laporan tersebut secara independen. Gedung Putih juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Ketegangan kembali meningkat setelah sebuah proyektil Iran menghantam kapal kargo di Selat Hormuz pada Kamis lalu. Washington dan Teheran saling menuding telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai pada 17 Juni.

Pada Minggu dini hari, Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain.

Serangan itu terjadi tidak lama setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan kepemimpinan Iran apabila Teheran tidak mematuhi kesepakatan penghentian konflik.

Sementara itu, Israel kembali menggempur sasaran yang diklaim sebagai infrastruktur bawah tanah kelompok Hizbullah di Lebanon selatan. Serangan tersebut berlangsung hanya beberapa hari setelah Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata baru guna meredakan konflik di perbatasan.

Di waktu yang hampir bersamaan, militer Amerika Serikat juga mengumumkan serangan terbaru terhadap target-target di Iran, beberapa jam setelah sebuah kapal tanker kembali menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia yang selama konflik sebagian besar tidak dapat dilalui secara normal.

"Mungkin akan tiba saatnya kita tidak bisa lagi bersikap rasional, dan terpaksa menyelesaikan secara militer tugas yang telah kita mulai dengan sangat sukses," ujar Trump di media sosial.

"Jika hal itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!,” tulis Trump, seperti dikutip Reuters.

Kesepakatan damai sementara yang terdiri atas 14 poin sebelumnya dirancang untuk menghentikan konflik yang pecah sejak akhir Februari, membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz, serta memberi ruang bagi pembahasan lanjutan mengenai program nuklir Iran.

Namun, rapuhnya kesepakatan kembali terlihat setelah Iran membatalkan pembicaraan teknis dengan Amerika Serikat yang sedianya berlangsung pada Minggu. Teheran menilai sejumlah syarat dalam nota kesepahaman belum dipenuhi, termasuk pencairan dana Iran yang sebelumnya dibekukan.

"Sebagai contoh, salah satu alasannya adalah memastikan apakah kita memiliki akses ke dana yang telah dicairkan; jika tidak ada akses, maka syarat ini belum terpenuhi," ujar Mehdi Fazaeili.

Sebelumnya, perundingan yang dimediasi di Swiss melibatkan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf.

Dalam pertemuan tersebut Washington juga melonggarkan sebagian sanksi terhadap Teheran. Meski demikian, bentrokan kembali terjadi dan terus meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain merupakan respons atas operasi militer Washington yang dinilai melanggar gencatan senjata.

Pemerintah Amerika Serikat mengonfirmasi Iran memang menargetkan fasilitas militernya di kawasan Teluk. Namun hingga saat ini belum terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan besar di pangkalan militer AS.

Di Bahrain, serangan Iran dilaporkan merusak sebuah bangunan permukiman di Provinsi Muharraq tanpa menimbulkan korban jiwa. Pemerintah Bahrain kemudian meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menggelar sidang darurat untuk membahas serangan tersebut.

Sementara itu, militer Kuwait menyatakan berhasil mencegat dua rudal balistik yang mengarah ke wilayahnya sehingga tidak menimbulkan korban maupun kerusakan.

Terpisah, Qatar melaporkan satu warga negaranya meninggal dunia dan seorang lainnya mengalami luka-luka setelah kapal yang mereka tumpangi terkena serpihan akibat operasi militer di kawasan tersebut. Pemerintah Qatar tidak menjelaskan lokasi pasti maupun pihak yang bertanggung jawab atas insiden itu.(DH)