Cathie Wood: Turki, Jepang, China jual US Treasuries demi mata uang
Senin, 29 Juni 2026
JAKARTA – CEO ARK Invest, Cathie Wood, dalam sebuah video yang beredar di media sosial memaparkan analisisnya mengenai aksi sejumlah negara menjual kepemilikan US Treasuries untuk menopang nilai tukar mata uang mereka.
Berikut adalah terjemahan penjelasannya yang telah disunting agar lebih mudah dipahami dalam bahasa Indonesia. Video asli dapat disaksikan melalui tautan berikut: https://www.facebook.com/reel/1421372533154597
***
...Di dunia ini, ada China, Jepang, dan India, juga Turki, yang menjadi sorotan saya. Beberapa minggu lalu saya melihat sebuah headline yang mengatakan bahwa Turki telah menguras kepemilikan US Treasuries-nya hingga hampir nol karena terus berupaya menopang nilai mata uangnya.
Apa yang mereka lakukan? Mereka menjual surat utang pemerintah AS (US Treasuries) untuk memperoleh dolar AS. Setelah itu, dolar tersebut dijual dan hasilnya digunakan untuk membeli lira Turki guna menopang nilai tukarnya. Kini mereka sudah hampir mencapai batas dari strategi tersebut.
Hal serupa juga dilakukan oleh Jepang. Jepang menjual kepemilikan US Treasuries untuk mendukung nilai yen. Mereka berusaha mempertahankan level 160 yen per dolar AS, level yang mengingatkan pada periode ketika ekonomi Jepang mulai mengalami gejolak pada 1989–1990.
Masalahnya, ketika Jepang menjual US Treasuries, mereka memperoleh dolar, lalu menjual dolar tersebut untuk membeli yen. Selama mereka tidak bisa mengendalikan nilai tukar mata uangnya sendiri, inflasi di Jepang justru meningkat.
Sama seperti Amerika Serikat, Jepang juga dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter pada pertengahan Juni, dan kemungkinan akan menaikkan suku bunga hingga sekitar 1%. Angka itu masih lebih rendah dibandingkan suku bunga acuan Federal Reserve yang berada di kisaran 3,75%. Meski demikian, selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat telah menyempit secara signifikan.
Jika melihat data terbaru, Jepang berada di posisi teratas dalam daftar penjual US Treasuries. Pada bulan terakhir saja, mereka menjual sekitar US$76 miliar surat utang pemerintah AS. Kita juga melihat China dan India mengurangi kepemilikan US Treasuries mereka.
Yang menarik, meskipun terjadi penjualan dalam jumlah besar, imbal hasil (yield) US Treasuries masih bertahan di kisaran 4,4% hingga 4,6%. Kami sebenarnya memperkirakan tekanan terhadap pasar obligasi pemerintah AS akan lebih besar, mengingat besarnya volume penjualan yang terjadi.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dampak dari intervensi tersebut. Ketika negara-negara menjual dolar untuk membeli mata uang mereka sendiri, likuiditas dolar yang beredar di pasar global justru meningkat. Banyak orang bertanya-tanya mengapa pasar saham AS terus mencetak rekor tertinggi. Salah satu alasannya mungkin karena likuiditas dolar di pasar global bertambah.
Ada hal lain yang mengingatkan saya pada dekade 1980-an. Saat itu saya masih sangat muda, tetapi saya masih ingat betul bagaimana berbagai negara berkembang berupaya mempertahankan mata uang mereka secara agresif.
Ketika sebuah negara harus melakukan intervensi besar-besaran seperti yang dilakukan Turki saat ini, sering kali itu menjadi tanda adanya tekanan yang lebih besar atau krisis yang sedang terbentuk. Kita pernah melihat pola serupa pada krisis utang di era 1980-an, dan kembali terjadi pada krisis keuangan Asia di akhir 1990-an.
Karena itu, saya mencermati apakah saat ini juga sedang muncul tekanan serupa di berbagai negara yang memaksa mereka menjual aset cadangan.
Dalam kasus Turki, selain menjual US Treasuries, mereka juga menjual emas. Kita juga melihat Rusia menjual emas dalam beberapa waktu terakhir. Ada pihak dari dalam Rusia sendiri yang mengatakan bahwa negaranya sudah tidak mampu lagi membiayai perang ini. Bagi kami, ini menjadi sinyal yang sangat menarik untuk dicermati.
Hal yang sama juga menarik untuk dicermati di China. China tampak mengalami kelangkaan pasokan minyak. Selama ini mereka banyak mengandalkan impor minyak melalui Selat Hormuz, namun harus memangkas volumenya. Hal ini mengindikasikan ada gangguan atau tekanan tertentu yang sedang terjadi di China yang turut menjelaskan mengapa mereka mengurangi kepemilikan US Treasuries. (YS/MT)