Garis keras Rusia desak Putin tinggalkan diplomasi dengan AS

Senin, 29 Juni 2026

image

MOSKOW – Kelompok nasionalis garis keras di Rusia mendesak Presiden Vladimir Putin menghentikan upaya diplomasi dengan Amerika Serikat (AS) dan meningkatkan eskalasi perang melawan Ukraina.

Seperti dikutip Reuters pada Jumat (26/06), desakan tersebut menguat setelah serangan drone Ukraina menargetkan Moskow, St. Petersburg, Krimea, serta dua serangan terhadap bus penumpang yang menurut Rusia menewaskan warga sipil.

Kelompok tersebut menilai AS gagal memenuhi janjinya untuk memediasi penyelesaian perang dengan syarat yang menguntungkan Rusia. Mereka pun meminta Kremlin mengambil langkah yang lebih agresif di medan perang.

Sejumlah tokoh nasionalis kembali menyerukan mobilisasi militer penuh, penghancuran pusat pemerintahan Kyiv, pembunuhan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, hingga serangan terhadap pabrik-pabrik pembuat drone di Eropa. Bahkan, sebagian di antaranya meminta Rusia mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir taktis.

"Apa lagi yang harus terjadi sebelum kita mulai berperang sungguhan? Perang berarti kemenangan dengan harga berapa pun," kata taipan nasionalis Konstantin Malofeyev setelah serangan Ukraina yang memicu kebakaran di kilang minyak Moskow pekan lalu.

Malofeyev juga mempertanyakan mengapa Rusia belum menggunakan senjata nuklir taktis yang menurutnya memang dikembangkan untuk situasi seperti itu.

Di media sosial, sejumlah blogger pro-perang turut menyerukan penghancuran kota-kota besar Ukraina. Salah satunya, kanal Telegram Obsessed by War yang memiliki lebih dari 650.000 pengikut, meminta agar kota-kota tersebut dihancurkan hingga tidak lagi layak dihuni.

Blogger nasionalis Yuri Baranchik juga mendesak Rusia menghentikan perundingan damai yang dimediasi AS. Ia menuduh Washington memberikan dukungan penuh kepada Kyiv dan mengklaim serangan udara Ukraina ke wilayah Rusia tidak mungkin terjadi tanpa persetujuan AS.

Meski retorika kelompok garis keras semakin meningkat, Kremlin belum menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan jalur diplomasi.

Namun, tiga pejabat senior Rusia pekan ini mengakui pembicaraan dengan AS belum menghasilkan kemajuan berarti dan menuduh Washington tidak menindaklanjuti proposal perdamaian yang diajukan dalam pertemuan Putin dan Trump di Alaska tahun lalu.

Di saat yang sama, Rusia juga mulai meningkatkan tekanan militer. Pada April, Kementerian Pertahanan Rusia mempublikasikan alamat sejumlah pabrik di Eropa yang dituduh memasok drone untuk Ukraina.

Bulan berikutnya, Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan rencana melancarkan "serangan sistematis" ke Kyiv, yang kemudian diikuti serangan yang merusak sebuah biara berusia sekitar 1.000 tahun.

Meski menghadapi tekanan dari kelompok nasionalis, Putin tetap menunjukkan keyakinan terhadap strategi yang ditempuh pemerintahannya. Dalam pidatonya di hadapan lulusan akademi militer pada Selasa, ia menyatakan pasukan Rusia hampir merebut Kota Kostyantynivka di Ukraina timur sebagai bagian dari upaya menguasai wilayah Donbas.

Putin juga mengatakan kekuatan politik Eropa yang bersikap keras terhadap Rusia pada akhirnya akan tergantikan oleh pemimpin yang lebih pragmatis.

"Pada akhirnya semua akan berhasil," ujar Putin. (SF)