Pemilih Trump kecewa soal Iran, khawatir Republik kalah pemilihan sela

Senin, 29 Juni 2026

image

WASHINGTON – Kesepakatan sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Iran menuai kritik, termasuk dari sebagian pendukungnya sendiri.

Seperti dikutip Reuters pada Sabtu (27/06), sejumlah pemilih Trump menilai konsesi yang diberikan kepada Teheran berpotensi merugikan Partai Republik pada pemilihan sela (midterm) November mendatang.

Berdasarkan wawancara Reuters dengan 18 pemilih Trump pada Pemilu 2024, mayoritas menyatakan keberatan terhadap isi kesepakatan yang membuka kembali Selat Hormuz, mencabut sementara sanksi minyak AS terhadap Iran, serta memberikan akses pendanaan rekonstruksi senilai US$300 miliar melalui investasi swasta.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos juga menunjukkan hanya sekitar seperempat warga Amerika yang menilai perang dengan Iran sepadan dengan biayanya. Mayoritas responden meragukan gencatan senjata dengan Teheran dapat bertahan lama.

Dari 18 pemilih yang diwawancarai, sebanyak 14 orang mengkritik berbagai aspek nota kesepahaman (MoU) yang disepakati pada pertengahan Juni. Mereka mempertanyakan pemberian akses pendanaan rekonstruksi dan meragukan komitmen Iran terhadap perdamaian.

"Kita perlu benar-benar melemahkan rezim Iran, bukan memukul mereka sebentar lalu membiarkan mereka membangun kembali," kata Terry Alberta, seorang pilot asal Michigan.

Juan Rivera, pemilih Trump dari San Diego, menilai Trump kini mengambil pendekatan yang tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya.

"Bernegosiasi dengan teroris," ujarnya, seraya mengatakan sebagian pendukung Trump di komunitasnya mulai kehilangan semangat mendukung Partai Republik pada pemilu sela.

Kritik juga muncul dari sisi ekonomi. Steve Egan, pelaku usaha dari Tampa, mengatakan perang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar dan barang, sementara tujuan perubahan rezim di Iran tidak tercapai.

Ia bahkan menyebut dukungan Trump terhadap kandidat tertentu dapat menjadi "ciuman kematian" (kiss of death) bagi pilihannya pada pemilu sela mendatang.

Di Negara Bagian Washington, Robert Billups menilai perang justru memicu lebih banyak permusuhan terhadap AS. Ia juga mengaku kepercayaannya terhadap Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin proses negosiasi, ikut menurun.

Menanggapi kritik tersebut, Gedung Putih membela kebijakan Trump. Juru bicara Gedung Putih menyatakan keberhasilan Trump, baik di medan perang maupun di meja perundingan, akan memperkuat keamanan Amerika Serikat dalam jangka panjang.

Meski demikian, sebagian pendukung Trump tetap memberikan dukungan. Enam responden mengatakan mereka percaya Trump masih memiliki strategi yang lebih besar dalam menghadapi Iran.

Kate Mottl dari wilayah Chicago meyakini "ada rencana yang lebih besar" di balik kesepakatan tersebut. Sementara Rich Somora dari North Carolina percaya Trump masih memiliki strategi yang lebih agresif terhadap pemerintahan Iran.

Di sisi lain, sejumlah analis dan diplomat menilai konflik justru memperkuat posisi elite penguasa Iran.

Sementara itu, pensiunan Joyce Kenney dari Arizona mengatakan dirinya mendukung pelonggaran sanksi demi perdagangan, tetapi menolak pendanaan rekonstruksi bagi Iran. "Itu bukan tanggung jawab kita," tegasnya. (SF)