Bos Koenigsegg: Mesin pembakaran belum tergantikan EV

Senin, 29 Juni 2026

image

ÄNGELHOLM – Produsen hypercar asal Swedia, Koenigsegg, menegaskan belum berencana beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Seperti dikutip Motor1 pada (27/06), CEO Christian von Koenigsegg mengatakan pabrik perusahaan di Ängelholm akan tetap memproduksi mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) dan hibrida dalam waktu yang belum ditentukan.

Pernyataan tersebut disampaikan saat peluncuran proyek Lego Sadair's Spear. Meski mengakui Koenigsegg memiliki kemampuan untuk membangun hypercar listrik murni, Christian menilai teknologi tersebut belum menjadi pilihan terbaik bagi perusahaan.

Menurutnya, pandangan tersebut berubah dibandingkan satu dekade lalu. "Jika Anda bertanya kepada saya 10 tahun yang lalu, saya mungkin akan berpikir bahwa pada tahun 2026 kita sudah akan memiliki Koenigsegg listrik," ujarnya.

Christian menilai mesin pembakaran internal menawarkan pengalaman berkendara yang tidak dapat digantikan kendaraan listrik.

Baginya, suara mesin, getaran, respons mekanis, dan karakter kendaraan menciptakan hubungan emosional yang menjadi daya tarik utama sebuah hypercar.

Ia menilai mobil bermesin pembakaran terasa seperti "organisme hidup", sedangkan kendaraan listrik menghadirkan pengalaman emosional yang berbeda. Karena itu, menurutnya, mesin pembakaran bukan sekadar teknologi transisi yang akan segera ditinggalkan.

Selain faktor emosional, Christian juga menyoroti aspek lingkungan. Menurutnya, kendaraan listrik dengan baterai berkapasitas besar membutuhkan jarak tempuh yang sangat panjang untuk menutupi emisi karbon yang dihasilkan selama proses produksi baterai.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut kurang relevan bagi hypercar, yang umumnya lebih sering menjadi koleksi dan menghabiskan banyak waktu di garasi dibandingkan digunakan sehari-hari.

Christian memperkirakan titik impas emisi baru tercapai setelah kendaraan menempuh sekitar 50.000 mil, bahkan dapat meningkat hingga sekitar 87.000 mil apabila menggunakan bahan bakar terbarukan atau biofuel.

Atas dasar itu, Koenigsegg membatalkan pengembangan platform listrik penuh yang sebelumnya sempat dirancang.

Sebagai gantinya, perusahaan memilih mengembangkan sistem hibrida dengan baterai berukuran lebih kecil, seperti yang digunakan pada model Gemera.

Pendekatan tersebut dinilai tetap memungkinkan berkendara secara senyap di area perkotaan, memanfaatkan pengereman regeneratif, serta mengurangi penggunaan material baterai.

Meski demikian, Christian tidak sepenuhnya menutup peluang menghadirkan hypercar listrik di masa depan. Menurutnya, keputusan tersebut akan bergantung pada perkembangan regulasi dan kemajuan teknologi baterai, terutama dalam hal bobot, ukuran, dan kebutuhan bahan baku kritis.

Sementara menunggu perkembangan tersebut, Koenigsegg tetap mengandalkan bahan bakar E85 yang didominasi etanol.

Christian memperkirakan kandungan bensin dalam bahan bakar tersebut pada akhirnya dapat digantikan oleh bahan bakar sintetis yang diproduksi menggunakan karbon yang ditangkap dari atmosfer dan energi terbarukan.

Ia menilai pendekatan tersebut berpotensi menghasilkan emisi bersih negatif (net-negative), meski mengakui teknologi tersebut masih mahal dan berseloroh bahwa biayanya merupakan semacam "pajak terhadap alam". (SF)