UBS ramal harga minyak naik lagi ke US$85 per barel
Senin, 29 Juni 2026
JAKARTA – Chief Investment Office (CIO) UBS memperkirakan harga minyak mentah brent berisiko kembali naik ke US$85 per barel pada akhir 2026, meski saat ini masih diperdagangkan di kisaran US$73 per barel setelah konflik di Timur Tengah reda.
Dalam riset yang disampaikan Jumat (27/6), UBS menilai harga minyak saat ini terlalu optimis pada asumsi bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan produksi minyak di kawasan Teluk pulih dengan cepat.
“Kami memperkirakan harga minyak mentah Brent kembali ke US$85 per barel pada akhir tahun ini,” tulis CIO UBS.
Meskipun blokade Selat Hormuz telah dicabut dan ekspor minyak Iran mulai pulih, proses normalisasi diperkirakan masih membutuhkan waktu. Kepercayaan perusahaan pelayaran belum sepenuhnya pulih, sementara premi asuransi kapal dan proses pembersihan ranjau masih menjadi tantangan.
UBS juga mencatat sekitar 50 juta hingga 100 juta barel minyak mentah, masih tertahan di kawasan Teluk. Proses pelepasan itu diakui akan menekan harga dalam jangka pendek, namun belum cukup untuk mengubah prospek harga untuk jangka menengah.
Selain itu, pemulihan produksi minyak di negara-negara Teluk diperkirakan berlangsung lebih lambat dari perkiraan. Penutupan Selat Hormuz sebelumnya memaksa sebagian besar produsen tutup, sementara kapal tanker yang dialihkan ke kawasan lain memerlukan waktu untuk kembali.
Secara keseluruhan, UBS tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap komoditas. Menurut lembaga keuangan asal Swiss ini, eksposur pada sektor energi berpotensi memberikan manfaat diversifikasi portofolio. Sedangkan prospek logam industri tetap kuat, ditopang tren kecerdasan buatan dan elektrifikasi berbagai negara. (KR)