Bitcoin kembali menguji area support krusial di kisaran US$59.000

Senin, 29 Juni 2026

image

JAKARTA - Tekanan jual di pasar kripto belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Bitcoin kembali menguji area support krusial di kisaran US$59.000 setelah sempat menyentuh level terendah intraday US$58.115, memicu kekhawatiran bahwa koreksi harga masih berpotensi berlanjut.

Seperti dikutip Kitco, secara teknikal, Bitcoin telah dua hari berturut-turut bergerak di bawah titik terendah yang terbentuk pada 5 Juni. Kondisi tersebut dinilai memperbesar peluang pelemahan menuju area US$49.000 apabila harga gagal mempertahankan level psikologis US$59.000 hingga penutupan perdagangan harian.

Meski indikator Relative Strength Index (RSI) harian telah memasuki wilayah jenuh jual (oversold), sinyal tersebut belum cukup untuk memastikan terbentuknya dasar harga baru. Pelaku pasar masih menunggu konfirmasi melalui pola pergerakan harga, peningkatan volume transaksi, serta perubahan struktur tren sebelum menyimpulkan bahwa fase koreksi telah berakhir.

Tekanan juga terlihat pada Ethereum. Aset kripto terbesar kedua itu turun hingga US$1.512 atau hanya sedikit di atas titik terendah 6 Juni di level US$1.505.

Analis menilai Ethereum, tetap berada dalam tren bearish dengan volume perdagangan yang belum menunjukkan pemulihan.

Apabila harga ditutup di bawah US$1.500, tekanan jual diperkirakan semakin meningkat dengan target pelemahan berikutnya menuju kisaran US$1.385.

Di sisi lain, dominasi stablecoin justru terus meningkat. Indikator tersebut menunjukkan semakin banyak investor memilih memindahkan dana ke aset berisiko rendah dibanding kembali masuk ke pasar kripto.

Kondisi tersebut mencerminkan sentimen risk-off yang masih mendominasi pasar aset digital. Arus modal yang bertahan di stablecoin mengindikasikan investor masih menghindari eksposur terhadap aset kripto berisiko tinggi.

Sementara itu, dominasi Bitcoin terhadap pasar kripto kembali menguat. Meski memberikan dukungan sementara bagi Bitcoin, kondisi tersebut justru memperbesar tekanan terhadap altcoin yang mencatat pelemahan lebih dalam.

Mayoritas aset kripto alternatif, termasuk XRP, BNB, Dogecoin, Polkadot, Near Protocol, Stellar, Hedera, hingga berbagai token berkapitalisasi menengah lainnya masih memperlihatkan pola teknikal yang negatif dengan tren penurunan yang belum berakhir.

Faktor makroekonomi juga menjadi perhatian pelaku pasar. Penguatan indeks dolar AS (DXY) serta lonjakan pasangan USD/JPY yang kembali mendekati level tertinggi sejak 2024 dinilai meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko secara global.

Di pasar saham, kontrak berjangka indeks S&P 500 juga mulai kehilangan momentum setelah menembus area support jangka pendek. Kondisi serupa terjadi di sejumlah bursa Asia. Indeks Nikkei terkoreksi sekitar 4,7%, Shanghai Composite turun lebih dari 2%, Hang Seng kehilangan level teknikal penting, sementara KOSPI mencatat penurunan lebih dari 8%. (DH)