Wall Street menguat usai AS dan Iran sepakat hentikan serangan
Senin, 29 Juni 2026
JAKARTA - Sentimen pasar global membaik setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat menghentikan sementara aksi saling serang yang kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kesepakatan tersebut memicu penguatan kontrak berjangka saham Wall Street, meski pelaku pasar masih mencermati risiko terhadap pasokan energi dunia.
Seperti dikutip Fortune, pada perdagangan Minggu malam waktu AS, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average menguat 128 poin atau 0,25%. Sementara itu, futures S&P 500 naik 0,38% dan Nasdaq bertambah 0,35%.
Optimisme investor muncul setelah kedua negara dilaporkan sepakat menghentikan serangan dan menjadwalkan pertemuan di Qatar pada Selasa guna membahas ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak global.
Meski demikian, pasar energi belum sepenuhnya tenang. Ancaman terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz masih membayangi pergerakan harga minyak karena kawasan tersebut menjadi jalur utama ekspor minyak mentah dari Timur Tengah.
Harga minyak mentah WTI naik sekitar 0,33% menjadi US$69,46 per barel, sedangkan Brent bertahan di kisaran US$71,97 per barel.
Sebelumnya, Iran kembali melancarkan serangan ke Kuwait dan Bahrain serta mengancam menghentikan proses negosiasi damai. Aksi tersebut merupakan bagian dari eskalasi balasan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara sebagai respons atas serangan drone Iran terhadap kapal-kapal komersial.
Situasi semakin kompleks setelah Iran berupaya memperkuat kontrol terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, termasuk dengan membentuk Persian Gulf Strait Authority yang diklaim memiliki kewenangan mengatur lalu lintas kapal di kawasan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Iran melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan. Ia juga kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran.
“Mungkin akan tiba saatnya kita tidak lagi mampu bersikap rasional, dan akan terpaksa menyelesaikan secara militer pekerjaan yang telah kita mulai dengan sangat sukses,” tulis Trump melalui Truth Social.
“Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!”
Di sisi lain, Angkatan Laut Amerika Serikat terus mengawal konvoi kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz sebagai upaya menjaga kelancaran arus perdagangan dan meyakinkan pelaku pasar bahwa jalur alternatif masih aman digunakan.
Namun, sejumlah analis menilai Iran sedang mendorong Amerika Serikat ke dalam situasi yang berpotensi memperpanjang konflik.
“Bagi AS, fakta bahwa jalur Oman mungkin akan diblokir menghadirkan ultimatum besar: apakah AS akan melakukan eskalasi atau membiarkan IRGC menguasai Selat Hormuz. Logikanya, hal itu mustahil terjadi, sehingga eskalasi akan terus berlanjut,” tulis HFI Research melalui platform X.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali menegaskan bahwa negaranya memiliki kewenangan penuh dalam mengelola lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
“Pengelolaan dan pemulihan penuh lalu lintas maritim di Selat Hormuz adalah tanggung jawab Iran.”
“Tidak ada negara atau entitas lain yang memiliki tanggung jawab atau wewenang dalam hal ini.”
Di tengah perkembangan geopolitik tersebut, perhatian investor pekan ini juga tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Laporan nonfarm payrolls untuk Juni dijadwalkan terbit lebih awal pada Kamis karena libur Hari Kemerdekaan AS.
Konsensus pasar memperkirakan penambahan sekitar 118.000 lapangan kerja baru, lebih rendah dibandingkan 172.000 pada Mei, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di level 4,3%. (DH)