Mau diversifikasi portofolio? Ini 6 cara investasi saham luar negeri

Selasa, 30 Juni 2026

image

JAKARTA – Berinvestasi di saham luar negeri menjadi salah satu cara yang banyak dipilih investor untuk diversifikasi portofolio sekaligus memperoleh peluang pertumbuhan dari berbagai negara. Namun, selain menawarkan potensi imbal hasil, investasi di saham luar negeri juga memiliki risiko yang perlu dipahami.

Dikutip dari Investopedia, penasihat keuangan umumnya menyarankan sebagian portofolio dialokasikan ke pasar internasional sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Meski demikian, investasi di luar negeri tetap memiliki risiko seperti fluktuasi pasar, ketidakpastian politik, hingga perubahan nilai tukar mata uang.

Pasar negara berkembang, misalnya, umumnya memiliki volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju. Selain itu, tingkat regulasi di beberapa negara juga dapat berbeda sehingga meningkatkan risiko manipulasi pasar maupun penipuan.

Investor juga perlu memperhatikan risiko nilai tukar. Perubahan kurs mata uang dapat memengaruhi nilai investasi ketika dikonversi kembali ke mata uang asal.

Berikut enam cara yang dapat dipilih oleh investor untuk mulai berinvestasi di saham luar negeri.

1. American Depositary Receipts (ADR)

ADR merupakan sertifikat yang diterbitkan bank kustodian di Amerika Serikat dan mewakili kepemilikan saham perusahaan asing. Instrumen ini memungkinkan investor membeli saham perusahaan luar negeri melalui bursa saham AS tanpa harus membuka rekening di negara asal perusahaan tersebut.

Salah satu contohnya adalah Alibaba yang mencatatkan ADR di New York Stock Exchange (NYSE) saat melakukan penawaran umum perdana (IPO) pada 2014.

2. Global Depositary Receipts (GDR)

Selain ADR, investor juga dapat memanfaatkan Global Depositary Receipts (GDR). Instrumen ini diterbitkan oleh bank kustodian dan diperdagangkan di berbagai bursa internasional, seperti London Stock Exchange maupun Luxembourg Stock Exchange.

Sebagian besar GDR menggunakan denominasi dolar AS, meskipun ada pula yang menggunakan euro maupun pound sterling.

3. Membeli Saham Langsung

Investor juga dapat membeli saham asing secara langsung melalui broker internasional yang menyediakan akses ke berbagai bursa global atau melalui perusahaan sekuritas lokal..

Namun, metode ini umumnya lebih cocok bagi investor sudah pernah berinvestasi di saham luar negeri, karena melibatkan biaya transaksi tambahan, aspek perpajakan, konversi mata uang, hingga kebutuhan riset yang lebih mendalam.

Investor juga perlu memastikan broker yang digunakan telah memperoleh izin dari regulator yang berwenang.

4. Reksa Dana Saham Global

Bagi investor yang menginginkan eksposur internasional tanpa harus memilih saham satu per satu, reksa dana saham global dapat menjadi alternatif.

Instrumen ini dikelola oleh manajer investasi profesional dan tersedia dalam berbagai strategi, mulai dari yang berfokus pada kawasan tertentu hingga negara tertentu, baik secara aktif maupun mengikuti indeks.

5. Exchange Traded Fund (ETF) Internasional

ETF internasional menjadi pilihan lain untuk memperoleh eksposur ke berbagai pasar luar negeri dengan biaya yang relatif efisien.

Beberapa ETF berinvestasi di banyak negara sekaligus, sementara lainnya hanya berfokus pada satu negara, sektor, atau tema investasi tertentu.

Sebelum berinvestasi, investor disarankan memperhatikan biaya pengelolaan, likuiditas, volume perdagangan, komposisi portofolio, serta implikasi perpajakan dari ETF yang dipilih.

6. Saham Perusahaan Multinasional

Investor yang tidak ingin membeli saham asing secara langsung juga dapat memperoleh eksposur internasional melalui perusahaan multinasional yang memperoleh sebagian besar pendapatannya dari berbagai negara.

Perusahaan seperti Coca-Cola maupun McDonald's menjadi contoh emiten yang memiliki sumber pendapatan global, sehingga tetap memberikan paparan terhadap pertumbuhan ekonomi internasional meskipun sahamnya diperdagangkan di bursa domestik.

Pada akhirnya, setiap metode investasi memiliki karakteristik, biaya, dan tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, investor perlu menyesuaikan pilihan instrumen dengan tujuan investasi, profil risiko, serta kondisi ekonomi dan politik negara tujuan agar portofolio tetap terdiversifikasi dengan baik. (ARF)