Gelombang panas ancam pusat data AI, biaya operasional melonjak
Selasa, 30 Juni 2026
JAKARTA - Ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) menghadapi tantangan baru dari perubahan iklim. Gelombang panas ekstrem dan cuaca buruk mulai meningkatkan risiko operasional pusat data (data center), sekaligus menambah biaya yang harus ditanggung pelaku industri.
Seperti dikutip Cnbc, lonjakan suhu yang melanda Eropa kembali menyoroti kerentanan infrastruktur penting, termasuk pusat data yang menjadi tulang punggung pengembangan AI.
Permintaan listrik yang melonjak akibat penggunaan pendingin udara berpotensi membebani jaringan listrik hingga memicu pemadaman yang mengganggu operasional.
Perusahaan asuransi Zurich mengungkapkan, cuaca ekstrem kini menjadi penyebab utama kerugian pada portofolio pembangunan pusat data di Amerika Serikat. Dalam tiga tahun terakhir, faktor tersebut menyumbang sekitar sepertiga dari total kerugian perusahaan.
“Ini bukan soal apakah risiko iklim akan berdampak pada revolusi infrastruktur digital,” ujar Joe Macejak, Pemimpin Praktik Infrastruktur Digital Properti AS di Marsh Risk, kepada CNBC.
“Melainkan bagaimana klien dan pemangku kepentingan di industri infrastruktur digital mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola risiko-risiko iklim tersebut sesuai dengan tingkat toleransi masing-masing.”
Menurut Macejak, kegagalan mengelola risiko iklim dapat meningkatkan biaya operasional dan mengganggu keberlangsungan proyek pembangunan pusat data AI.
Ekspansi pusat data juga semakin bergeser ke wilayah baru yang memiliki risiko cuaca lebih tinggi. Head of International Construction Zurich Patrick McBride mengatakan sekitar 64% kapasitas pusat data yang saat ini dibangun berada di luar kawasan tradisional seperti Northern Virginia dan mulai menyasar wilayah seperti West Texas, Tennessee, Wisconsin, Ohio, hingga Brasil dan Semenanjung Iberia.
“Cuaca ekstrem bukan lagi sesuatu yang bisa dianggap sekadar sebagai faktor latar belakang,” kata McBride. “Hal itu merupakan salah satu aspek utama yang kami dan para pemilik yang bekerja sama dengan kami perhatikan.”
Tekanan tidak hanya berasal dari cuaca ekstrem, tetapi juga meningkatnya konsumsi energi untuk sistem pendingin.
CEO Rhizome, Mishal Thadani, mengatakan pendingin menyumbang sekitar 40% konsumsi listrik pusat data dalam kondisi normal dan akan meningkat saat suhu ekstrem, ketika jaringan listrik juga menghadapi lonjakan permintaan dari penggunaan pendingin udara.
“Pusat data membutuhkan energi paling besar justru pada saat jaringan listrik memiliki ketersediaan pasokan paling minim,” ujar Thadani.
Sebagai respons, operator pusat data mulai menyesuaikan desain fasilitas agar lebih tahan terhadap perubahan iklim. Microsoft menyatakan pusat datanya dirancang tetap beroperasi pada berbagai kondisi cuaca melalui pemilihan lokasi, sistem cadangan, dan pemantauan secara real time.
Sementara itu, Nvidia memperkenalkan server AI terbaru yang mampu beroperasi menggunakan cairan pendingin bersuhu hingga 45 derajat Celsius.
Menurut perusahaan, kenaikan suhu sistem pendingin sebesar satu derajat Celsius dapat memangkas konsumsi energi untuk pendinginan sekitar 4%.
Chief Commercial Officer Global Data Center Solutions, Johnson Controls Aaron Lewis, mengatakan sejumlah pengembang bahkan mulai memasukkan faktor perubahan iklim dalam spesifikasi pembangunan pusat data agar fasilitas mampu beroperasi di tengah kenaikan suhu pada masa mendatang.
“Laju inovasi yang didorong oleh lonjakan pusat data akan memungkinkan kita untuk beroperasi dalam beberapa kondisi tersebut hingga jauh di masa depan,” kata Lewis.(DH)