Deutsche Bank: Asia alihkan utang ke euro, de-dolarisasi mulai tampak
Kamis, 11 Desember 2025

NEW YORK - Ekonomi Asia-Pasifik semakin menggeser pembiayaan mereka dari dolar AS ke euro, menegaskan risiko kebijakan Presiden Donald Trump terhadap dominasi Amerika dalam pasar modal global.
Dikutip businesstimes.com, penerbitan obligasi berdenominasi euro oleh peminjam Asia naik menjadi 23% dari total penerbitan tahun ini, melonjak enam poin persentase dibanding 2024, menurut data Bloomberg. Nilainya mencapai €86,4 miliar (US$130,1 miliar), naik 75% dari tahun sebelumnya.
“Salah satu pendorong utama adalah kebutuhan untuk melakukan diversifikasi agar tidak terlalu bergantung pada dolar AS,” kata Daniel Kim, co-head pasar modal utang Asia-Pasifik di HSBC.
Lonjakan ini didorong oleh motif strategis yang melampaui sekadar refinancing rutin. Investor pun terdorong untuk masuk ke aset euro karena kebijakan perdagangan Trump dan tekanan terhadap Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga telah mengguncang kepercayaan pada dolar AS.
Meski penerbitan dolar AS tetap dominan dan naik 29% tahun ini, pangsa pasar menurun. “De-dolarisasi atau diversifikasi portofolio investasi untuk mengalokasikan lebih banyak dana ke mata uang non-dolar AS adalah tema yang telah kita saksikan tahun ini.,” ujar Ben Wang, Kepala Pasar Modal Utang Offshore China di Deutsche Bank.
Keunggulan euro juga didorong oleh biaya pendanaan yang lebih rendah. Premi swap euro ke dolar AS berada di level terendah hampir lima tahun, yakni 3,1 basis poin, sehingga beberapa peminjam Asia dapat menggalang dana lebih murah dibandingkan dolar AS atau mata uang domestik.
Transaksi besar termasuk penjualan obligasi €4 miliar China yang menarik penawaran lebih dari €100 miliar dan penawaran €5,5 miliar NTT Inc., terbesar dari Asia pada 2025. “Ini memberi Anda pasar yang lebih luas untuk berinvestasi, dengan arus kas dari berbagai wilayah dan berbagai jenis perusahaan.,” kata Chris Iggo, CIO Axa Investment Managers.
Daya tarik Eropa diperkirakan berlanjut, dengan Deutsche Bank memproyeksikan penerbitan euro oleh peminjam Asia naik ke US$125 miliar pada 2026, meningkat lebih dari 20%. “Kami melihat penerbit ingin memperluas jejak mereka, tidak hanya di Asia tetapi juga di luar, dengan Eropa terus menjadi pasar kunci,” ujar Henry Loh, kepala kredit Asia di Aberdeen Investments.(DH)