Litium lebih populer dari nikel untuk baterai EV, Bos Harita merespon
Selasa, 30 Juni 2026
JAKARTA – Baterai kendaraan listrik (EV) berbasis nikel masih memiliki porsi di industri EV global di tengah popularitas baterai litium (LFP), menurut Roy Arman Arfandy, Direktur Utama PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel.
“Sebenarnya baterai LFP, maupun baterai yang berbasis nikel, itu mempunyai pangsa pasar tersendiri,” jelas Roy saat ditemui di gelaran Public Expose secara daring, Selasa (30/6).
Menurutnya, baterai nikel lebih banyak digunakan untuk kendaraan listrik kelas menengah ke atas, serta kendaraan yang berukuran lebih besar khas pabrikan Eropa dan Amerika Serikat (AS).
“Seperti Dodge, GM, yang tentunya membutuhkan baterai dan kapasitas simpan-listrik yang lebih besar dibandingkan LFP,” ujarnya.
Menurutnya, daya simpan listrik yang tinggi juga menguntungkan mobil di Eropa dan AS, yang cenderung digunakan untuk berkendara dalam jarak jauh dan belum memiliki banyak charging station di sepanjang jalan.
“Berbeda dengan negara Cina yang memiliki banyak charging station, sehingga dengan kapasitas baterai kecil pun mereka tidak ada masalah,” katanya lebih lanjut.
Hal ini sejalan dengan temuan dalam Global EV Outlook oleh International Energy Agency (IEA). Dalam laporan tersebut, IEA menunjukkan bahwa pada tahun 2025, baterai LFP mewakili 55% dari total baterai EV yang digunakan di seluruh dunia.
Angka ini naik dari 50% pada 2024, dan produksinya masih terkonsentrasi di Cina, meski negara berkembang dan Emerging Market lain mulai bergerak ke arah serupa.
“Baterai LFP kini menghidupkan dua per tiga dari total mobil listrik di negara-negara tersebut – naik dua kali lipat dari 2023 – didorong impor mobil dan baterai pabrikan Cina,” tulis IEA dalam laporannya.
Sementara itu, di Eropa dan AS, baterai nikel masih mendominasi EV dengan tingkat penggunaan berkisar 87-95% per akhir 2025, sementara LFP hanya menangkap 5-13% sisa pangsa pasar yang ada.
Roy kemudian juga mengungkapkan salah satu faktor lingkungan yang membuat baterai nikel lebih disukai oleh pabrikan dan konsumen Eropa: recyclability.
Baterai berbasis nikel, atau NCM, yang telah digunakan dapat didaur ulang, dan diolah kembali untuk menghasilkan black powder, yang kemudian akan kembali diolah menjadi nikel sulfat.
“Karena mungkin dalam 20-30 tahun ke depan, baterai ini tidak akan ditambang lagi, tapi direcycle dari baterai berbasis nikel yang sudah selesai terpakai,” ujarnya.
Sebagai catatan, Harita Nickel merupakan emiten nikel yang beroperasi di Pulau Obi, Maluku Utara, dengan proyek pertambangan seluas 11 ribu hektare, 3 plant RKEF untuk bijih nikel saprolit, dan 2 plant HPAL untuk bijih nikel limonit. (ZH)